3 Pelajaran dari OTT Sang Bupati

Publik digegerkan dengan tertangkapnya seorang kepala daerah dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar KPK kemarin. Kasus dana suap 1,5 miliar untuk anggaran pendidikan di kabupaten ini melibatkan 6 orang termasuk sang bupati.


Visi Maju dan Agamis
Kabupaten ini mematok visi yang ideal, "Maju dan Agamis". Untuk visi "maju", awal-awal menjalankan roda pemerintahannya, bupati ini menggenjot pembangunan sarana-sarana mercusuar. Misal, membuat taman asma"ul husna di perbatasan Kabupaten Bandung Barat, Taman Kreatif Joglo sebagai tempat kongkow remaja, dan Alun-alun Cianjur yang megah.

Untuk visi "agamis", ada instruksi untuk melaksanakan sholat berjamaah bagi ASN. Bahkan memakai absensi elektronik.

Semua langkah ini sebagian masyarakat menyambut positif, namun tak sedikit juga yang mencibir.

Tentang Kasus OTT
Tak perlu dibahas di sini, bukan ranah dan domain saya untuk mengupasnya. Banyak media online mainstream yang memberitakannya. Namun, sebagai insan uluul albaab, insan yang senantiasa berfikir, kita mesti mengambil hikmah ataupun sisi baik dari yang terjadi kemarin.

Hikmah OTT Sang Bupati

Kalau kita utak-atik sisi baik, tentu banyak. Berikut ini 5 Pelajaran dari Tertangkapnya Bupati dalam OTT KPK :
1.Kekuasaan itu Amanah
Abu Bakar radhiyallahu anhu ketika dinobatkan menjadi khakifah, beliau menangis karena tahu bahwa menjadi pemimpin itu berat dan akan diminta pertanggungjawaban. Bagaimana dengan pejabat yang justru memanfaatkan jabatannya untuk berbuat licik, curang, dan serakah? Kita bisa melihatnya sekarang. Ditangkap KPK dan hancur nama baiknya.

2. Sepandai-pandainya menyimpan kebusukan, akan tercium pula
Kasus kemarin adalah hanya satu dari rangkaian kebusukan-kebusukan yang lebih banyak sebelumnya. Kebusukan walaupun ditutupi dengan seolah-olah syiar dan kebaikan, sejatinya akan terbongkar pula. Dan kita dapat pelajaran dari peristiwa heboh kemarin.

3. Sistem busuk, menjadikan pribadi busuk pula
Ingat perkataan seorang tokoh nasional, "Andaikan malaikat sekalipun, jika masuk ke sistem pemerintahan Indonesia, ia akan berubah menjadi setan". Kejam juga. Tapi memang begitulah. Kasus-kasus seperti ini buah dari sistem demokrasi. Seorang pejabat ketika pencalonan, mengeluarkan dana besar. Ketika sudah jadi, ya modal harus kembali. Inilah sistem busuk demokrasi. Saatnya kita beralih ke sistem Islam Kaaffah.

Demikan sahabat, coretan sederhana dalam melihat dari sisi lain sebuah kasus. Mudah-mudahan kita istiqomah dalam memperjuangkan terapnya syariah dalam seluruh aspek kehidupan bernegara. Aamiin.

Selamat berikhtiar,
Deniguru.blogspot.com
posted from Bloggeroid

Belum ada Komentar untuk "3 Pelajaran dari OTT Sang Bupati"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel