Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbedaan Air Wadi, Air Madzi, dan Air Mani, serta Cara Mensucikannya

Kita mengenal tiga jenis air (selain air kencing) yang keluar dari kemaluan (zakar/farji), yaitu air wadi, air madzi, dan air mani. Apa pengertian dari ketiga jenis air itu dan bagaimana cara kita mensucikannya? Ini penting sekali dalam Islam, mengingat kesucian dari ketiganya menjadi syarat terlaksananya ibadah.
Youtube


Air Wadi

Yaitu air yang berwarna putih yang kental, air ini keluar setelah kencing dan hukumnya nazis, tanpa ada perbedaan pendapat. Aisyah ra berkata, " Adapun air wadi adalah air yang keluar setelah buang air kecil, maka bersihkanlah dzakar dan farji seseorang, lalu berwudhu tidak perlu mandi besar"( HR Ibnu Mundzir).

Dari Ibn Abbas ra, air terbagi tiga yaitu air mani, air wadi, dan air madzi, adapun air mani wajib mandi besar, sedangkan air wadi dan air madzi hanya membersihkannya dengan sempurna ( HR Al-Atsrami dan al-Baihaqi) dengan redaksi yang berbeda. Adapun air madzi dan air wadi ia berkata, " Bersihkan kemaluanmu atau tempat kemaluanmu dan berwudhulah seperti wudhumu ketika hendak shalat."

Air Madzi


Air madzi adalah air yang berwarna putih yang lengket yang keluar ketika berjima, atau keluar ketika hendak bersenggama, dan terkadang manusia tidak merasakan keluarnya air tersebut. 

Air madzi keluar baik itu dari laki-laki maupun perempuan, namun pada wanita lebih banyak. Air ini hukumnya najis, berdasarkan kesepakatan para ulama. Jika air ini mengenai badan, maka wajib membasuhnya. Namun jika hanya mengenai pakaian, maka cukup hanya dengan memercikkan air pada bagian pakaian yang terkena najis tersebut. Alasannya, karena sulit untuk menjaganya, dan ini banyak terjadi mengenai pakaian laki-laki yang belum kawin. Hukum air ini lebih ringan dibanding dengan air kencingnya anak kecil.

Dari Ali ra berkata, " Ada seorang laki-laki yang keluar aur madzi kemudian aku utus seseorang untuk menanyakan hal ini kepada Rasul yang sedang berada di tempat putrinya. Nabi menjawab, "Berwudhulah kamu dan bersihkanlah kemaluanmu" (HR Bukhari).

Dari Sahal bin Hanif ra, Aku telah keluar air madzi yang sangat banyak, yang menyusahkanku, dan aku sering bermandi besar, lalu aku menceritakan kejadian itu kepada Nabi SAW. Beliau berkata, " Sesungguhnya cukup bagimu dengan berwudhu". Kemudian aku bertanya lagi bagaimana sesuatu yang mengenai pakaianku? Nabi menjawab, " Cukup bagimu mengambil air secukupnya, maka cucurkanlah pada bajumu pada bagian yang kamu lihat air itu mengenainya." (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah serta At-Tirmidzi).

Air Mani


Sebagian ulama berpendapat atas kenajisan air mani, sedangkan pendapat yang lebih jelas bahwa air mani adalah suci, namun disunatkan untuk membersihkannya jika basah, dan membiarkannya jika sudah mengering.

Aisyah ra berkata, " Aku telah membiarkan air mani pada pakaian Rasulullah jika air itu sudah kering, dan aku membersihkannya jika masih basah." (HR Daruquthni, Abu Awanah, dan Al-Bazzar).

Ibnu Abbas ra berkata, Nabi ditanya tentang pakaian yang terkena air mani, lalu Nabi SAW menjawab, " Tentunya air mani sama halnya dengan ingus dan air ludah, yaitu cukup bagi kalian mengusapnya dengan kain kasar atau dengan rumput jeruk." (HR Daruquthni, al-Baihaqi, dan At-Thahawi).

Demikian penjelasan singkat mengenai perbedaan air wadi, air madzi, dan air mani, beserta penjelasan cara mensucikannya berdasar petunjuk Rasulullah SAW. Semoga ini menambah wawasan dan kefahaman kita dalam berIslam.

Penjelasan lebih luas bisa Anda baca dalam Buku Fiqih Wanita, karangan Dr Yusuf Qaradhawi, yang diterbitkan Penerbit Jabal.

Wallahu a'lam.
Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, dan Seorang Pembelajar

Posting Komentar untuk "Perbedaan Air Wadi, Air Madzi, dan Air Mani, serta Cara Mensucikannya"