Sebagian Keutamaan Ayat-ayat Al-Qur'an untuk Menolak Kefakiran

Dalam kitab Jala’ul-Afham, Abu Musa al-Madini mengeluarkan sebuah hadits; katanya: ada seorang lelaki datang mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kefakiran dan kesempitan hidup yang dialaminya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Jika kamu masuk rumahmu, ucapkanlah salam, baik ada atau tidak ada orang di dalamnya, kemudian ucapkan shalawat dan salam kepadaku, sesudah itu bacalah, Qul Huwalloohu Ahad…23 satu kali.” 24

Laki-laki itu pun mengamalkan saran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu. Dan tak lama kemudian Allah pun melimpahkan rezeki kepadanya banyak-banyak, sampai dia mampu memberi sedekah kepada tetangga-tetangga dan kerabat-kerabatnya.

Ada lagi sebuah hadits yang dikeluarkan Ibnu Mardawaih, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; beliau bersabda:

Surah al-Waqi‘ah adalah surah kekayaan, maka bacalah dan ajarkanlah surah itu kepada anak-anak kalian.” 25 Sementara Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berucap: “Barangsiapa yang membaca Surah al- Waqi‘ah setiap malam, niscaya dia tidak akan pernah ditimpa kefakiran selamanya.”

Pelajaran dari Nabi Agar Dimudahkan dalam Melahirkan Anak

Imam as-Suyuthi radhiyallahu ‘anhu telah menukilkan dalam kitabnya, al-Itqan, dari Ibnus Sunni, bahwa ketika Sayidah Fathimah az-Zahra’ radhiyallahu ‘anha hampir melahirkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kedua istri beliau, Sayidah Ummu Salamah dan Sayidah Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anhuma agar datang, lalu membacakan kepadanya:

􀁨Ayat al-Kursi.
􀁨Firman Allah Ta‘ala:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٥٤)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang, (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam” (al-A‘raf [7]: 54).

􀁨 Surah al-Falaq dan Surah an-Nas.26

Enam Ayat Obat Segala Penyakit

Menurut riwayat asy-Syihab Ali al-Baidhawi dari Imam as-Subki, bahwa ayat-ayat berikut ini sudah sering dicoba, dan para dokter pun mengakui, bahwa di antara perintah-perintah agama ada yang dapat menjadi obat, karena adanya khasiat ruhani, sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Mufradat karangan Imam as-Subki. Karena itu, orang yang tidak mempercayainya, tidak perlu dipedulikan.

Asy-Syihab meriwayatkan pula dari al-Qusyairi, bahwa ada salah seorang anaknya yang menderita sakit. Begitu kritisnya, sehingga tak bisa diharapkan bakal hidup. Tapi kemudian dia bermimpi bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam mimpi itu dia mengadukan halnya kepada beliau. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyarankan: “Bacakan kepadanya ayat-ayat kesembuhan, atau tulis ayat-ayat itu (lalu masukkan) ke dalam bejana, dan beri dia minum dari sisa air yang kamu usapkan.”

Al-Qusyairi melakukan saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya itu, dan anaknya pun sembuh dari sakitnya. Adapun ayat-ayat yang dimaksud ialah:

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١)
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.


قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ (١٤)
“… Dan, Allah akan melegakan hati orang-orang yang beriman” (at-Taubah [9]: 14). 


يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (٥٧)
“… Dan, (telah datang kepadamu) obat bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada…”
(Yunus [10]: 57). 


ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٦٩)
“… Di dalam minuman itu terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia” (an-Nahl [16]: 69). 


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا (٨٢)
Dan, Kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman…” (a
l-Isra’ [17]: 82).

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (٨٠)
“Dan, apabila aku sakit, Dia-lah (Allah) Yang menyembuhkan aku” (asy-Syu‘ara’ [26]: 80). 


وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ (٤٤)
“… Katakanlah: ‘Al Qur’an itu petunjuk dan obat bagi orang-orang yang beriman’…” (Fushshilat
[41]: 44).

Khasiat Ayat al-Kursi

Menurut riwayat Ibnu Qutaibah; dia berkata: telah bercerita kepadaku seorang laki-laki dari Bani Ka‘ab; ujarnya: saya pernah datang ke Bashrah untuk berdagang kurma, tapi saya tidak mendapat tempat menginap di sana. Saya hanya menemukan sebuah rumah yang sudah banyak dipenuhi jaring laba-laba di langit-langitnya. 

Maka saya bertanya kepada orangorang yang saya temui: “Apa yang terjadi dengan rumah ini?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya rumah itu ada penghuninya.” Tapi saya katakan kepada pemilik rumah: “Maukah Anda sewakan rumahmu ini kepadaku?” “Jaga dirimu,” kata pemilik rumah, “Sesungguhnya dalam rumah ini ada ifrit yang telah menjadikannya sebagai tempat tinggalnya. Siapa pun yang masuk rumah ini, pasti mati.” Namun tetap saya katakan: “Sewakan rumah Anda kepadaku, biarlah saya tinggal bersama ifrit itu. Allah-lah yang akan menolongku terhadapnya.” “Terserah kamu sajalah,” katanya.

Akhirnya saya pun tinggal di rumah itu. Malam harinya, ada seseorang yang hitam legam datang kepadaku, kedua matanya menyala bagaikan api, tapi dia tetap tampak gelap. Dia mendekat kepadaku. Maka saya bacakan: “Alloohu la ilaaha illaa Huwal-Hayyul- Qoyyuum… ” dan seterusnya sampai akhir ayat.27

Setiap kalimat yang saya baca, dia bisa menirukannya. Tetapi tatkala saya sampai pada kalimat, “Walaa ya’uuduhuu hifzhuhumaa wa Huwal-‘Aliyyul-‘Azhiim”, dia tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi. Karena itu, saya ulangi kalimat itu berkali-kali. Akhirnya, kegelapan itu lenyap. Maka saya pun berbaring di suatu sudut dalam rumah itu, lalu tidur.

Esok harinya, saya melihat bekas sesuatu yang terbakar dan abu di tempat saya melihat makhluk semalam itu. Dan tiba-tiba saya mendengar seseorang berkata: “Kamu telah membakar seorang ifrit yang besar.” Saya bertanya: “Mengapa dia terbakar olehku?”

Suara itu menjawab: “Dengan firman Allah Ta‘ala,

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (٢٥٥)

“…Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya (bumi dan langit), dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar” (al-Baqarah [2]: 255). Demikian riwayat yang termaktub dalam kitab Khawashul-Qur’an karangan Imam al-Ghazali.

Sumber : Sebagian cuplikan isi buku “DOA DAN AYAT YANG BERTUAH”, karangan Muhammad Shiddiq al-Munsyawi, diterbitkan oleh Penerbit Noen.


Catatan kaki :

21) Ali ‘Imran [3]: 26
22) Disebutkan as-Suyuthi dalam kitabnya, ad-Durrul-Mantsur fit-Tafsiril-Ma’tsur 2/26, dan dia menisbatkan kepada Thabrani dalam kitabnya, ash-Shaghir dengan sanad jayid, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

23) Al-Ikhlash [112]: 1 dan seterusnya.

24) Makna hadits ini disebutkan as-Suyuthi dalam kitabnya, ad-Durrul-Mantsur fit Tafsiril-Ma’tsur 6/707, dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, dan dia nisbatkan pula kepadaThabrani.

25) Disebutkan as-Suyuthi dalam kitabnya, ad-Durrul-Mantsur fit-Tafsiril-Ma’tsur 6/ 215, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dan dia nisbatkan pula kepada Ibnu Mardawaih.

26) Disebutkan as-Suyuthi dalam kitabnya, ad-Durrul-Mantsur fit-Tafsiril-Ma’tsur 1/ 576, dari Ali bin Abi Thalib, dari Fathimah az-Zahra radhiyallahu ‘anhuma, dan dia nisbatkan pula kepada Ibnus Sunni dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah.

27) Yaitu ayat al-Kursi, al Baqarah [2]: 255.