Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sunnah-sunnah yang berkaitan dengan Shalatnya Musafir

sunnah-sunnah shalatnya musafir
Apakah musafir tetap wajib shalat? Untuk shalat fardu, tetap ia ditaklif untuk melaksanakannya dalam kondisi apapun. Namun untuk shalat-shalat sunnah, ada ketentuannya tersendiri. Ada beberapa adab dan sunnah yang berkaitan dengan shalatnya musafir ( orang yang sedang bepergian/safar), di antaranya :

1. Anjuran meng-qashar shalat
Disyari’atkan bagi seorang musafir (orang yang sedang bepergian/safar) untuk meng-qashar (meringkas) shalat yang empat rakaat menjadi dua raka’at, yaitu shalat Dhuhur, ‘Ashar, dan ‘Isya. Adapun Maghrib dan shubuh, tetap dalam bilangan raka’at yang utuh.

Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا (١٠١)

dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar[343] sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS An-Nisa 4/101)

Shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “ Melalui lisan Nabi kalian, Allah mewajibkan kalian shalat empat rakaat saat mukim, dua rakaat ketika bepergian, dan satu rakaat ketika takut” (HR Muslim, Abu Dawud, An-Nasa-I, dan Ibnu Majah)

2. Jarak dibolehkannya meng-qashar shalat

Pada dasarnya tidak ada batasan tertentu dalam hal ini. Yang dijadikan patokan adalah apa yang dinamakan safar itu sendiri dalam Bahasa Arab, yang dengan bahasa tersebut Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berbicara dengan kaumnya.

Alasannya, jika memang ada definisi lain selain yang kita kemukakan tadi, pastilah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak akan lupa menjelaskannya. Di samping itu para shahabat pun tidak akan lupa menanyakannya kepada Rasulullah. Lagi pula, mereka tentu tidak akan bersepakat untuk tidak menayampaikan batasan-batasan itu kepada kita.

3. Kapan mulai dibolehkannya meng-qashar shalat?


Jumhur ulama berpendapat bahwa bolehnya meng-qashar shalat apabila telah meninggalkan tempat atau wilayah asalnya, yaitu ketika telah keluar dari daerah tempat tinggal dan telah memasuki wilayah lain.

Imam Ibnul Mundzir rahimallah berkata, “ Aku tidak mengetahui bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah meng-qashar shalat pada setiap safarnya melainkan setelah beliau meninggalkan Madinah”.

Anas berkata, “ Aku shalat dhuhur empat rakaat bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di Madinah. Adapun di Dzul Hulaifah, kami shalat ( ‘Ashar) dua rakaat” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tarmidzi, dan An-nasa-i)

4. Lamanya seorang musafir meng-qashar shalatnya

Apabila seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk suatu keperluan, akan tetapi tidak berniat untuk mukim, maka dia tetap meng-qashar shalatnya hingga keluar dari daerah itu dan kembali ke asalnya.

Imam At-Tarmidzi rahimallah—setelah membawakan hadits no. 548---mengatakan, “ Ahli ilmu sepakat bahwa musafir harus meng-qashar shalat apabila dia tidak berniat untuk menetap; walaupun dia tinggal (di tempat safarnya) selama bertahun-tahun.” ( Sunan At-Tarmidzi no. 548)

5. Bolehnya menjamak dua shalat

Diperbolehkan menjamak dua shalat apabila terpenuhi sebab-sebabnya, yaitu :

Pertama, Sedang di perjalanan safar ( HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa-i)
Kedua; Sedang turun hujan

Dari Musa bin ‘Uqbah, ia berkata, “ Umar bin ‘Abdil ‘Aziz menjamak shalat Maghrib dengan Isya ketika turun hujan. Padahal kala itu Sa’id bin al-Musayyab, Urwah bin az-Zubair, Abu Bakr bin ‘Abdirrahman, dan beberapa ulama zaman itu bermakmum di belakangnya dan tidak ada yang mengingkarinya.” (Atsar shahih, diriwayatkan Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu anhu, ia mengatakan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak shalat Zhuhur dengan shalat ‘Ashar dan menjamak shalat Maghrib dengan shalat Isya tidak dalam keadaan takut maupun safar.” ( HR Muslim, Abu Dawud, an-Nasa-I)

Dia juga mengatakan, “ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak shalat Zhuhur dengan shalat ‘Ashar dan menjamak shalat Maghrib dengan shalat ‘Isya di Madinah. Waktu itu tidak dalam keadaan takut ataupun hujan.” ( HR Muslim, Abu Dawud, dan selainnya).

Ketiga : Sedang dalam kebutuhan mendesak

Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu mengatakan, “ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak shalat Zhuhur dengan shalat ‘Ashar dan menjamak shalat Maghrib dengan shalat ‘Isya di Madinah. Waktu itu tidak dalam keadaan takut ataupun hujan.” Ada yang bertanya pada Ibnu ‘Abbas, “ Apa maksud beliau melakukan itu?” Dia menjawab, “ Beliau tidak ingin memberatkan umatnya.” ( HR Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi)

Imam Nawawi rahimallah berkata,” Beberapa kalangan dari para imam berpendapat bolehnya menjamak shalat dalam keadaan mukim (tidak safar) karena suatu keperluan selama tidak menjadikannya kebiasaan.

Pendapat di atas dipegang Ibnu Sirin dan Ashab, pengikut Imam Malik. Dan pendapat ini juga diriwayatkan oleh al-Khatthabi dari al-Qaffal, dan asy-Syasyi al-Kabir dari kalangan pengikut Imam asy-Syafi’I, dari Abu Ishaq al-Marwazi, dari beberapa kalangan ahli hadits. Dan pendapat inilah dipilih Ibnu Mundzir.

Juga dikuatkan oleh zhahir pernyataan Ibnu ‘Abbas ketika beliau mengatakan, “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya.” Dia tidak menyebutkan alasan sakit atau yang lainnya.

Wallahu a’lam.

Referensi :
Buku Amalan Sunnah Setahun, karya Al-Mukarom Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, dan Seorang Pembelajar

Posting Komentar untuk "Sunnah-sunnah yang berkaitan dengan Shalatnya Musafir"