Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Split Personality, pengertian dan Hubungannya dengan Pribadi Seorang Muslim

 iamlejen.com
Split Personality, pengertian dan Hubungannya dengan Pribadi Seorang Muslim.  Split personality, atau sering juga disebut kepribadian ganda, didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana kepribadian individu terpecah sehingga muncul kepribadian yang lain. Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan baha ada satu orang yang memiliki pribadi lebih dari satu, atau memiliki dua pribadi sekaligus.

Kadang si penderita tidak tahu bahwa ia memiliki kepribadian ganda. Dua pribadi yang ada dalam satu tubuh ini juga tidak saling mengenal dan lebih parah algi kadang-kadang saling bertolak belakang sifatnya. Kepribadian ganda bisa dikategorikan sebagai gangguan mental, masuk dalam dissociative disorders.
Dissociative disoders adalah gangguan temporal yang menyebabkan gagalnya fungsi memori atau hilangnya control terhadap emosi. Biasanya terjadi karena trauma, siksaan, ketika ada masalah yang sangat berat, dan sebagainya.

Hubungan Split Personality dengan Kepribadian seorang muslim

Istilah “split personality” kemudian sering dipakai juga ketika melihat seorang Muslim, memiliki perilaku berbeda dalam keseharian. Namun, menurut pandangan saya, penggunaan istilah itu, tidak terkategori split personality yang dimaksud di atas.

Memang sejatinya, seorang Muslim yang beriman kepada Allah SWT, seorang yang menyatu antara hati, pikiran, ucapan, dan perbuatannya. Serasi antara pemahaman dan perilakunya. Tidak ada pertentangan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena memang keimanan itu semestinya akan terefleksi dalam cara berfikir dan bertindak. Sehingga akan terbentuk sosok muslim yang memiliki kepribadian utuh, kepribadian Islam.

Utuhnya kepribadian ini akan tampak dalam semua aktivitas, baik pada waktu melakukan ibadah (mahdhah), memperlakukan dirinya sendiri seperti berpakain, makan, berakhlak maupun dalam kegiatan muamalah.

Kenyataannya, di tengah kehidupan sehari-hari, betapa banyak kaum Muslimin yang tidak memiliki kepribadian utuh seperti gambaran di atas. Pada satu sisi dan kondisi tertentu, ia adalah sosok yang baik, cerdas, dan bertakwa. Namun pada sisi dan kondisi yang lain, Ia adalah sosok yang buruk, bodoh, dan fasik.

Misalnya, baik ketika beribadah, tetapi berlaku zalim kepada sesama. Tampak salih ketika ada di masjid atau mushola, tetapi melakukan aktivitas yang melanggar hokum Allah saat berada di pasar, di tempat kerja, dan di tempat kegiatan kehidupan lainnya. Atau rajin beramar ma’ruf nahi munkar, tapi perbuatannya tidak mencerminkan apa yang diucapkannya.

Kalau demikian, bagaimana solusinya?

Teruslah melakukan amar ma’ruf nahi munkar karena itu sebuah kewajiban. Mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, serta mengajak orang lain dalam kebaikan dan mencegah orang lain berbuat kemungkaran, keduanya adalah sama-sama kewajiban. Meski terkadang kita melakukan kekhilafan, tetapi wajib melakukan amar ma’ruf.

Meninggalkan satu kewajiban masih jauh lebih baik daripada meninggalkan dua kewajiban sekaligus. Mengerjakan kebajikan dan meninggalkan kemungkaran bukanlah syarat bagi seseorang diperbolehkan mengajak orang lain berbuat baik dan mencegah kemungkaran.

Seandainya hal itu menjadi persyaratan, niscaya amar ma’ruf nahi munkar banyak ditinggalkan orang. Namun harus dipahami, bahwa termasuk kesempurnaan amar ma’ruf nahi munkar yang kita lakukan (kepada orang lain), kita sendiri mengerjakan apa yang kita dakwahkan. Orang akan lebih tergerak dan menyambut seruan yang kita sampaikan apabila melihat contoh tersebut ada pada diri kita. [Media Umat 136, Dra (Psi) Zulia Ilmawati]


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ (٣) 

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS As-Shaf:2-3).

Semoga kita menjadi muslim yang berkepribadian utuh, serasi antara fikiran, hati, ucapan, dan perbuatan, semua didasari batasan syariat Islam. Semoga kita istiqomah dalam berdakwah, sekaligus memperbaiki diri kea rah yang lebih baik. In syaa Allah!



Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, dan Seorang Pembelajar