Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pelajaran Unik dari Buku Muhammad Al-Fatih 1453


Sebelum ada kejadian aneh, saya alhamdulillah sudah menamatkan membaca sebuah buku setebal halaman ini. Sebuah buku karya Ustadz Felix Siauw ini berjudul "Muhammad Al Fatih 1453", berbicara mengenai kisah heroik futuhat (penaklukan) sebuah kota bernama Konstantinopel. Membaca buku tersebut tidak terkait person penulisnya, tidak terkait harakah dakwahnya, namun lebih kepada konten yang ditulisnya luar biasa menjabarkan sejarah dan membangkitkan ghirah keislaman.

Sebuah kisah penaklukan oleh Muhammad Al Fatih terhadap kota yang beratus tahun sudah dijanjikan baginda mulia, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Sebuah penaklukan kota yang menjadi simbol hegemoni Kristen di Eropa. Sekaligus awal keruntuhan kekaisaran Byzantium, dan memncarkan cahaya Islam lebih tinggi lagi.

Kejadian aneh tadi yang saya maksud adalah ketika sebuah institusi yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak bangsa, memalui surat edaran resminya menganjurkan institusi-institusi di bawah kewenangannya untuk membaca buku Muhammad Al Fatih 1453. Tentu ini anjuran mulia, mengingat buku tersebut betul-betul inspiratif bagi anak muda untuk berbuat lebih bagi agama dan bangsanya.

Namun ternyata anjuran mulia ini dimentahkan oleh pejabat di atas, dan atas lagi, bahkan dilarang dan bahkan menyebutkan bahwa K-Pop dan drama korea-lah yang justru menginspirasi anak negeri. Sebagai orang awam, saya menganggap ini abnormal, tidak normal.

Mengapa ini terjadi? Mungkin karena sudah terlanjur benci kepada orangnya, eh ternyata bukunya pun dipersekusi. Sepertinya kejadian ini hanya ada di negeri antah berantah, yang jauh dari nalar dan kenormalan. 

Pelajaran dari Buku Muhammad Al Fatih 1453


Pelajaran #1: See beyond the eyes can see

Banyak pelajaran yang bisa kita gali dari buku ini, salah satu di antaranya adalah tentang " See beyond the eyes can see". Apa itu? Kita baca paragraf berikutnya.

Sikap mental apakah yang paling menonjol pada seorang Mehmed Al-Fatih? Jawabannya adalah "See beyond the eyes can see", melihat lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata. Lebih jauh lagi bisa dikatakan, ini adalah sikap mental yang terkait dengan inti ajaran Islam, aqidah Islam.

Sebagian perkara keimanan di dalam Islam tidak dapat dilihat oleh mata dalam meyakininya, menuntut seseorang untuk bisa melihat lebih dari mata. Eksistensi Allah, malaikat, hari kiamat, surga dan neraka, dan perkara-perkara lain yang tidak kasat mata.

Allah juga telah menjadikan "sesuatu yang tak terlihat oleh mata" sebagai balasan yang baik bagi orang yang beriman dan azab bagi yang mendustainya. 

Dalam Islam, janji dan prediksi serta kabar gembira dari Allah dan Rasul-Nya disebut dengan bisyarah. Bagi kaum muslimin, bisyarah adalah sumber energi yang tak terbatas, yang dapat mengatasi segala rintangan dan memungkinkan segala kemustahilan`

Bisyarah juga membuat seorang muslim rela mengorbankan apa yang ada di depan matanya untuk mengejar janji Allah dan Rasul-Nya yang jauh lebih baik walaupun tidak dapat dipandang mata.

Semua ini tergambar dari pribadi Muhammad Al-Fatih, sebagaimana kaum muslimin lainnya yang taat kepada agamanya.

Pelajaran #2: Melihat dengan akal

Pelajaran lain dari buku ini, bahwa seorang pemimpin, apalagi penakluk, wajib memiliki sikap ini, melihat dengan akal, selain dengan matanya.Seseorang yang selalu melihat kekinian dan fakta di depan matanya tidak pantas, bahkan tidak layak menjadi pemimpin. Seorang pemimpin dinilai dari seberapa yakin dia bisa mewujudkan apa yang dilihat dengan akalnya, bukan hanya dengan matanya.

Pandangannya ke masa depan dan keyakinan untuk mencapainya adalah sesuatu yang membuatnya memiliki ketahanan yang lebih daripada yang biasanya dan perbuatan yang lebih daripada yang biadsanya dan seringkali prestasi yang lebih daripada yang lain.

Dapat kita bayangkan, 54 hari pengepungan yang dilakukan Sultan Mehmed dan lebih dari 30.000 pasukannya gugur di medan perang pada 1453. Sebuah kesulitan yang tidak terbayangkan, mengatur 250.000 pasukan, sementara di depan mata menghadapi tembok yang tidak tertembus selama 11 abad. Bila Sultan Mehmed melihat dengan matanya, sungguh Konstantinopel tidak akan bisa ditaklukan.

Maka perpaduan dua hal ini, melihat lebih daripada yang bisa dilihat dengan mata dan melihat tidak hanya dengan mata, melainkan dengan akal, menjadi bekal luar biasa bagi Muhammad Al-Fatih, dan kaum muslimin pada umumnya, untuk menjemput segala bisyarah Allah dan Rasul-Nya.

Demikianlah Muhammad Al-Fatih merealisasikan satu bisyarah Rasulullah SAW untuk menaklukan Konstantinopel. Tugas kita, merealisasikan bisyarah lanjutannya, yaitu penaklukan Roma.


Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, dan Seorang Pembelajar