Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Materi PAI Kelas 9: Menatap Masa Depan dengan Optimis, Ikhtiar dan Tawakal


Sahabat semua, alhamdulillah kita bisa kembali bertemu walau hanya melalui blog ini. Seperti biasa, kita akan lebih memperdalam mata pelajaran PAI kelas 9. Kali ini tentang Bab Menatap Masa Depan dengan Optimis, Ikhtiar dan Tawakal. Untuk memahami materi ini, sahabat bisa lihat ringkasannya di peta konsep berikut ini:

Pada pagi hari, setiap orang memulai aktivitasnya masing-masing. Para Siswa berangkat ke sekolah karyawan menuju ke kantor, petani pergi ke sawah dan sebagainya. Mereka semua memulai aktivitas pagi dengan penuh semangat.

Di sisi lain, ada beberapa orang yang tidak mau berusaha. Mereka hanya berdiam diri, menunggu nasib, dan mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Mereka tidak mau berusaha karena menganggap semua itu sudah menjadi takdirnya. Orang-orang seperti ini sangat disayangkan.

Mari kita merenung, burung-burung yang terbang mencari makan di pagi hari pun akan kembali ke sarangnya ketika sore hari dalam keadaan perutnya menjadi kenyang. Demikian juga dengan kalian sebagai Siswa, ada yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk belajar sehingga saat ulangan dapat
menyelesaikan soal-soal dengan lancar. 

Di sisi lain, ada beberapa Siswa yang enggan belajar ketika ulangan. Mereka hanya mengharapkan contekan dari teman-teman mereka. Sungguh kebiasaan buruk ini tidak boleh dilakukan, karena pada saat dewasa nanti kebiasaan buruk ini akan terbawa.

Wahai anak shalih, giatlah belajar untuk meraih cita-cita. Belajar merupakan salah satu bentuk ikhtiar dalam meraih cita-cita. Manusia diberi kesempatan untuk berusaha, berusaha, dan terus berusaha. Namun ingatlah bahwa tidak semua usaha itu pasti membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Terkadang hasil dari usaha kita tidak sesuai dengan harapan. Namun di mata Allah Swt., segala ikhtiar yang belum berhasil itu pun sudah bernilai.

1. Optimis

Sifat optimis adalah sifat orang yang memiliki harapan positif dalam menghadapi segala hal atau persoalan. Kebalikan dari optimis adalah pesimis. Orang yang memiliki sifat pesimis selalu berpandangan negatif dalam menghadapi persoalan.

Perhatikan contoh-contoh berikut.
  • Raisa dan Joni mengikuti lomba menggambar di tingkat kabupaten.Raisa yakin dalam lomba ini akan meraih hasil yang terbaik. Sebaliknya, Joni merasa bahwa dalam lomba kali ini ia tidak mungkin bisa menang.
  • Doni dan Hasim sakit demam berdarah (DB). Mereka berdua dirawatdi rumah sakit. Doni memiliki semangat yang tinggi untuk sembuh, sedangkan Hasim takut kalau penyakitnya tidak dapat disembuhkan.
  • Di dalam satu kelas IX terdapat 30 Siswa. Sebanyak 29 Siswa menyongsong ujian dengan rasa percaya diri, namun Nilna merasa takut kalau nanti gagal dalam ujian.
Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita memiliki sifat optimis. Sifat itu memicu seseorang menjadi bersemangat dalam menyelesaikan pekerjaan dan memberi kekuatan dalam menghadapi suatu masalah. Sebaliknya sifat pesimis menjadi penyebab seseorang menjadi terpuruk tidak bersemangat.

Sifat optimis termasuk perilaku terpuji (akhlak karimah) yang harus  dimiliki seorang muslim. Seorang muslim yang memiliki sifat optimis akan selalu berpikiran positif dan berprasangka baik kepada Allah Swt. Nabi Muhammad saw. memberikan teladan kepada kita agar senantiasa memiliki sikap optimis. Perhatikan hadis berikut ini:
Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada rasa thiyarah (firasat buruk dan kesialan), dan yang lebih baik dari itu adalah rasa optimis. Maka ditanyakanlah kepada beliau: Apa yang dimaksud dengan rasa optimis?, Beliau bersabda: Yaitu kalimat baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian.” (H.R. Ahmad)

Seseorang yang bersifat optimis akan tetap semangat menghadapi semua permasalahan. Jika tidak berhasil menyelesaikan suatu permasalahan, maka dia akan mencoba lagi untuk kedua kalinya, jika gagal kedua kalinya, akan mencoba lagi untuk ketiga kali, sampai berhasil.

Sebaliknya jika seseorang pesimis, maka akan menyerah dan tidak mau berusaha lagi. Sifat pesimis merupakan sifat tercela yang harus dihindari oleh setiap muslim. Sifat pesimis akan membuat seseorang berprasangka buruk kepada diri sendiri dan kepada Allah Swt.

Setiap cobaan hidup yang dialami oleh seorang muslim harus dihadapi dengan tabah, semangat pantang menyerah, serta bersungguhsungguh berusaha mencari solusi terbaik. Pantang bagi seorang muslim untuk mengeluh apalagi berputus asa. Hidup ini akan terasa menyenangkan dan terasa indah jika kita mampu menjalaninya dengan penuh optimis.

Salah satu ciri orang yang optimis adalah ia memiliki harapan yang baik pada saat sebelum melakukan suatu pekerjaan. Melakukannya dengan sepenuh hati dan perasaan senang serta Pada saat melaksanakan suatu pekerjaan. orang yang optimis mensyukuri keberhasilannya dan mengevaluasi kekurangannya, setelah selesai melakukan suatu pekerjaan.

Ciri lain dari orang yang optimis adalah melihat segala sesuatu sebagai sebuah kesempatan, peluang, dan kemungkinan. Sebaliknya orang yang pesimis melihat segala sesuatu sebagai kegagalan dan ketidakmungkinan. 

Dalam situasi yang sulit orang yang optimis akan selalu bilang, “Meskipun sulit, namun masih ada kesempatan untuk berhasil.” Sebaliknya, dalam situasi yang mudah orang yang pesimis masih mengatakan, “Sebenarnya itu hal yang mudah bagiku, namun aku khawatir kalau nantinya akan
gagal.”

Orang yang optimis biasanya ditandai dengan wajah yang berseri-seri dan mudah untuk tersenyum. Sebaliknya orang yang pesimis biasanya sering cemberut dan terlihat murung. Sekarang kita dapat memilih, mau menjadi orang yang optimis atau pesimis ?

2. Ikhtiar

Ikhtiar adalah berusaha bersungguh - sungguh untuk mencapai harapan, keinginan, atau cita-cita. Ketika seseorang menginginkan sesuatu maka ia harus mau berusaha atau berupaya untuk meraihnya.

Contoh-contoh ikhtiar adalah sebagai berikut.
  • Orang yang ingin pandai harus berusaha dengan rajin belajar.
  • Orang yang ingin hidup berkecukupan harus berusaha dengan rajin bekerja.
  • Orang yang ingin memiliki tabungan harus berusaha hidup hemat atau mengurangi pengeluaran.
  • Orang yang ingin sehat harus berusaha dengan rajin menjaga kebersihan dan berolah raga.
  • Orang yang sedang sakit dan ingin sembuh harus berobat.
Usaha-usaha tersebut merupakan bagian penting yang harus dilakukan oleh manusia. Dengan demikian tidak dibenarkan orang yang mempunyai keinginan itu hanya berdiam diri tanpa ada upaya sama sekali. Selanjutnya usaha tersebut diikuti dengan doa, memohon kepada Allah Swt. agar keinginan tersebut dapat terwujud.

Allah Swt. mengajarkan mengenai pentingnya ikhtiar, sabagaimana firman-Nya berikut ini:

Artinya: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya
dengan balasan yang paling sempurna, dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu)”
. (Q.S. an-Najm/53:39-42)

3. Tawakal

Tawakal artinya berserah diri kepada Allah Swt. atas hasil usaha kita setelah berusaha dengan sungguh-sungguh dan berdoa. Misalnya, saat menghadapi ulangan kamu sudah belajar dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan soal-soal dengan cermat dan teliti. Setelah itu kamu pasrah dan menyerahkan keputusan atas hasil usaha kamu kepada Allah Swt.

Contoh lain misalnya seseorang telah bekerja mencari nafkah dengan sungguh-sungguh. Berapa pun hasilnya ia pasrahkan sepenuhnya kepada Allah Swt. Ia meyakini bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki, Maha Pemurah, dan Maha Kaya.

Kepribadian tawakal ini merupakan salah satu akhlak terpuji. Seseoran yang memiliki sikap tawakal berarti telah memiliki modal awal yang baik. Seandainya hasil usahanya tidak memuaskan maka ia dapat menerima dengan lapang dada dan penuh kesabaran. Sebaliknya , jika hasil usahanya sangat memuaskan maka ia tidak merasa sombong dan angkuh karena hal itu semata-mata karunia dari Allah Swt. Ingatlah bahwa manusia hanya berkewajiban untuk berusaha, sedangkan keputusan sepenuhnya di tangan Allah Swt. yang memiliki sifat wajib Maha Berkehendak (Irādah) dan Maha Kuasa (Qudrah).

Perhatikan firman Allah Swt. berikut ini:


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman ! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum` bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal. (Q.S.Al maidah/5:11)

Seseorang yang menyertakan tawakal dalam setiap tindakan dan usahanya akan berdampak positif terhadap kepribadiannya. Dampak positif ini terlihat tidak hanya ketika usahanya berhasil. Namun juga terlihat ketika usahanya tidak berhasil. Orang yang tawakal tetap menanggapinya dengan positif.
  • Kalau usahanya sukses, orang yang tawakal meyakini bahwa kesuksesan itu merupakan karunia Allah Swt. yang harus disyukuri dan tidak perlu menjadi tinggi hati.
  • Kalau usaha tidak sukses, orang yang tawakal tidak berputus asa dan tetap berusaha. Bahkan dia melakukan introspeksi diri mengapa usahanya tersebut belum berhasil. Apakah ada sesuatu yang kurang atau ada yang ia kerjakan dengan tidak sungguh-sungguh. Orang yang tawakal tetap meyakini bahwa kegagalan merupakan keberha-silan yang tertunda.
  • Membiasakan diri dengan perilaku ikhtiar dan tawakal akan membuat orang semakin pandai dan terampil, karena setiap usaha pasti ada ilmunya dan ada cara meraih keberhasilan..

Demikian pembahasan singkat mengenai Menatap Masa Depan dengan Optimis, Ikhtiar dan Tawakal. Semoga materi ini bisa menjadi penambah pemahanam dalam belajar PAI.
Deni Abu Fadli
Deni Abu Fadli Banyak khilaf namun penuh harap, bisa sehidup dan sesyurga bersama