-->

3 Pendapat tentang Hukum Rokok dalam Islam

Illustrasi: tribunnews

Mengenai hukum rokok dan merokok, selalu ramai untuk diperbincangkan. Wajar, mengingat penikmat rokok terbilang banyak, dan yang menolak pun banyak. Terus terang saya, alhamdulillah, sejak kecil belum pernah merokok, dan berazam untuk tidak melakukannya. Walau demikian, tetaplah keterangan harus diutarakan, agar menjadi jelas tentang kedudukan hukum dari rokok dan merokok.

Hukum merokok ini dijawab oleh Ustadz M. Shiddiq Al Jawi. Berikut pemaparan selengkapnya tentang pendapat-pendapat tentang hukum rokok, dan pendapat mana yang laing kuat untuk dijadikan dasar untuk menghukuminya.

Terdapat khilafiyah hukum rokok menjadi 3 (tiga) versi pendapat di kalangan ulama sebagai berikut;

Pertama, haram. Antara lain pendapat Muhammad bin Abdul Wahab, Abdul Aziz bin Baz, Yusuf Qaradhawi, Sayyid Sabiq, dan Mahmud Syaltut.

Kedua, makruh. Antara lain pendapat Ibnu Abidin, Asy-Syarwani, Abu Sa’ud, dan Luknawi.

Ketiga, mubah. Antara lain pendapat Imam Syaukani, Taqiyuddin Nabhani, Abdul Ghani Nablusi, dan pengarang Ad-Durrul Mukhtar. (Wizarat al-Awqaf Al-Kuwaitiyah, al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, Juz 10, Bab “At-Tabghu”; Abdul Karim Nashr, Ad-Dukhan Ahkamuhu wa Adhraruhu, hal. 23; Ali Abdul Hamid, Hukm ad-Din fi al-Lihyah wa At-Tadkhin, hal. 42).

Mana Pendapat yang paling Rajih?

Menurut Ustadz Shiddiq Al Jawi, pendapat yang rajih (kuat) adalah yang memubahkan, kecuali bagi individu tertentu yang mengalami dharar (bahaya) tertentu, maka hukumnya menjadi haram bagi mereka.

Rokok hukum asalnya mubah, karena rokok termasuk benda (al-asy-ya`) yang dapat dihukumi kaidah fiqih :

الأصل في الأشياء الإباحة ما لم يرد دليل التحريم
Al-ashlu fi al-asy-ya` al-ibahah maa lam yarid dalil at-tahrim 

(hukum asal benda mubah selama tak ada dalil yang mengharamkan). 

(Ibnu Hajar ‘Asqalani, Fathul Bari, 20/341; Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 60; Syaukani, Nailul Authar, 12/443). 

Maka dari itu, rokok hukumnya mubah karena tak ada dalil khusus yang mengharamkan tembakau (at-tabghu; at-tanbak).

Namun bagi orang tertentu, rokok menjadi haram jika menimbulkan dharar (bahaya) tertentu, sedang rokok itu sendiri tetap mubah bagi selain mereka. Dalilnya kaidah fiqih : sebagai berikut :

كل فرد من أفراد الأمرالمباح إذا كان ضارا أو مؤديا إلى ضرر حرم ذلك الفرد وظل الأمر مباحا
Kullu fardin min afrad al-amr al-mubah idza kaana dhaarran aw mu`addiyan ilaa dhararin hurrima dzalika al-fardu wa zhalla al-amru mubahan 

(Setiap kasus dari sesuatu (benda/perbuatan) yang mubah, jika berbahaya atau mengantarkan pada bahaya, maka kasus itu saja yang diharamkan, sedangkan sesuatu itu tetap mubah). (Taqiyuddin Nabhani, Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah, 3/457).

Berdasarkan ini, rokok haram hanya bagi individu tertentu yang terkena bahaya tertentu, semisal kanker jantung atau paru-paru. Namun tak berarti rokok lalu haram seluruhnya, tetapi tetap mubah bagi selain mereka.

Kriteria bahaya yang menjadikan rokok haram

Kriteria bahaya yang menjadikan rokok haram ada 2 (dua). 

Pertama, jika mengakibatkan kematian atau dikhawatirkan mengakibatkan kematian. Bahaya semacam ini haram karena termasuk bunuh diri (QS An-Nisaa` : 29). 

Kedua, jika mengakibatkan seseorang tak mampu melaksanakan berbagai kewajiban, semisal bekerja, belajar, sholat, haji, jihad, berdakwah, dll. Bahaya ini diharamkan berdasar kaidah fiqih al-wasilah ila al-haram haram (Segala perantaraan yang mengantarkan pada yang haram, hukumnya haram). (M. Husain Abdullah, Mafahim Islamiyah, 2/155).

Jika bahaya yang ada belum sampai pada kriteria di atas, maka rokok tetap mubah. 

Namun lebih baik meninggalkan rokok. Sebab merokok (tadkhiin) dalam kondisi ini (tak menimbulkan kematian atau kekhawatiran kematian, atau mengakibatkan meninggalkan yang wajib), adalah tindakan menimbulkan bahaya pada diri sendiri yang hukumnya makruh.

Dalil makruhnya menimbulkan bahaya bagi diri sendirinya, adalah hadis bahwa Nabi SAW pernah ditanya tentang seorang lelaki yang bernadzar akan berdiri di terik matahari, dan tidak akan duduk, berbuka pada siang hari (berpuasa), tidak berteduh, dan tidak berbicara. Nabi SAW bersabda :

مره فليتكلم وليستظل وليقعد، وليتم صومه
Perintahkan ia untuk berbicara, berteduh, dan duduk, namun ia boleh menyempurnakan puasanya.” (HR Bukhari, no 6326).

Dalil ini menunjukkan larangan (nahi) menimbulkan bahaya pada diri sendiri. Namun karena larangan ini tidak tegas (jazim), maka hukumnya makruh, bukan haram. (M. Husain Abdullah, ibid, 2/147). Wallahu a’lam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel