Super Deal GTV dan Guru PAI

Gambar dari Youtube.com
Tak biasanya hari itu saya ingin nonton acara entertainment di sebuah stasiun TV, GTV, yaitu " Super Deal Indonesia". Sore itu, yang berkesempatan pertama tampil dari sekian peserta adalah seorang wanita, 28 tahun dari sebuah daerah. Berkerudung, dengan baju hijau dan celana merah. Dari awal ditunjuk oleh pembawa acara, dia sudah memperlihatkan "kegenitan"nya, bahkan sampai memeluk sang Host. Singkat cerita, setelah menjalani aneka pilihan yang ditawarkan host, si wanita ini pulang dengan membawa satu unit motor dan uang tunai 5 juta rupiah.

Lalu apa menariknya cerita ini?
Ternyata setelah diwawancarai pembawa acara, si wanita " genit " ini dengan terus terang mengaku sebagai istri seorang guru, seorang guru PAI ( Pendidikan Agama Islam ) di Cianjur. Wah wah wah....Terus terang saya jadi "malu". Sebagai guru PAI, saya jadi bercermin juga. Seandainya saya ada di posisi suaminya, ini sebuah kegagalan besar. Gagal mendidik istri, salah satunya dalam hal berpakaian dan interaksi laki-laki dan perempuan. Kembali bercermin, mengapa hal seperti ini bisa terjadi, seorang istri Guru PAI, namun tak mampu berbusana sesuai syar'i dan menghindarkan diri dari ikhtilat.

Dari hal di atas, saya merenungi, setidaknya ada beberapa catatan yang menjadi pelajaran, khususon bagi saya sendiri :
1. Guru PAI tupoksinya mendidik peserta didik, menuju pemahaman Islam yang sempurna atau mendekati sempurna. Dan jelas, ini harus tercermin dari aktivitas keseharian sang guru, apakah sesuai syariat ataukah tidak.

2. Istri adalah pakaian bagi suaminya. Demikian Al Qur'an berbicara. Ketika suami memiliki sebuah "jabatan" sosial yang agung, dalam hal ini guru PAI, maka seyogyanya istri menjadi "pakaian" bagi suaminya. Ia berusaha menjadi contoh kebaikan, yang nanti akan dilihat juga oleh peserta didik dan masyarakat, bahwa memang pantas berlaku demikian. Notabene istri seorang Guru PAI.

Dan entah berapa untaian kalimat lagi yang bisa kita tuliskan untuk menggambarkan akhlak yang seharusnya dimiliki oleh guru, terutama guru PAI. Jabatan guru yang satu ini terasa lebih berat beban di pundaknya. Ia adalah representasi dari guru ideal, karena memang yang diajarkannya juga hal yang ideal, pemahaman dan skill agama.

Ah..
Semuanya akan kembali kepada diri, seideal itukah sendiri? atau jangan-jangan persis dan tak jauh beda dengan gambaran di atas. Tapi harap senantiasa terungkap, semoga guru PAI semuanya menjadi garda terdepan memahamkan Islam secara kaffah kepada umat. In Sya Allah....