Kelembutan Versus Kekasaran, Mana yang Lebih Digjaya?

Ada sebuah cerita kuno dari negeri nun jauh di sana, tentang perdebatan antara angin topan, angin puting belitung, dan angin sepoi-sepoi. Ceritanya, ketiga angin ini berdebat siapa yang paling jago, paling gagah. Untuk menyelesaikan pertengkaran kecil itu, semuanya sepakat untuk mengadakan perlombaan.

Perlombaannya, siapa yang paling cepat menjatuhkan sang monyet yang sedang bergelantungan di pohon, maka ia lah pemenangnya. Maka diundilah siapa yang "berlaga"  duluan.

Angin topan mendapat giliran pertama. Maka dia ancang-ancang untuk meniup sang monyet supaya jatuh dari pohon. Mulailah ia meniup, semakin lama semakin keras. Namun, ternyata makin keras tiupan angin, makin eratlah sang monyet memeluk pohon. Akhirnya, sang angin topan menyerah mengaku kalah.

Giliran kedua, angin puting beliung. Dengan pede-nya ia memutar diri untuk menghasilkan angin yang besar, tujuannya agar sang monyet jatuh. Sama dengan yang pertama, makin besar angin yang dihembuskan, makin kuat sang monyet memeluk pohon. Angin puting beliung pun menyerah.

Giliran angin sepoi-sepoi beraksi. Pelan-pelan saja dia menghembuskan angin kepada sang monyet, terus dihembuskan secara pelan. Ditambah suara burung berkicau, angin sepoi-.sepoi menghembus tubuh sang monyet. Perasaan dininabobokan, dan akhirnya monyet tertidur. Tak disadari, pegangan ke dahan pohon pun terlepas.

Sudah bisa ditebak siapa pemenangnya, sang angin sepoi-sepoi. Dengan kelembutannya, mampu memenangi tantangan, dan berhasil menjatuhkan sang monyet.

Apa ada pelajaran dari cerita tersebut?

Ada. Dari cerita sederhana di atas, setidaknya kita bisa mengambil pelajaran, bahwa :

Pertama, Kemarahan dan kekerasan/kekasaran, memang akan gampang menundukkan manusia kepada apa yang si pemarah inginkan. Ketundukkan seseorang karena dimarahi dan dikerasi, adalah ketundukkan karena keterpaksaan, bukan muncul dari kesadaran sendiri.

Kedua, Kemarahan dan kekerasan/kekasaran akan menimbulkan kebencian, antipati, dan rasa sakit hati. Manusia mana yang rela hatinya untuk dimarahi. Manusia mana yang ingin dirinya diperlakukan kasar oleh sesamanya. Manusia, hanya mau bergerak jika hatinya nyaman, sehingga geraknya itu penuh dengan kemantapan dan kesenangan.

Teladan Rasul dan sahabat dalam memperlakukan orang lain

Fragmen kecil sirah Rasulullah dan para sahabat, di antaranya :
1. Ketika Rasulullah berdakwah ke Thaif, tak dinyana penduduk Thaif menyambut Rasulullah dengan makian dan lemparan batu, hingga Rasul mulia terluka. Malaikat Jibril menawarkan "pembalasan" untuk penduduk Thaif. Namun Rasulullah malah memaafkan, dan berharap suatu ketika pendudukan Thaif menerima Islam, yang didakwahkannya.

Kesabaran dan kelembutan beliau membuahkan hidayah. Dua belas tahun berikutnya, penduduk Thaif semuanya memeluk Islam.

2. Umar bin Khaththab, suatu ketika dimarahi istrinya. Para sahabat bertanya, kenapa engkau tak membalas kemarahannya, ya Umar?. Beliau menjawab, istriku yang mengandung dan melahirkan anak-anakku. Kehormatanku tak ada apa-apanya dibanding kelelahannya dalam menjalani proses itu. Jadi, aku tak berhak marah untuk urusan itu.

Jadi....
Sekali lagi, kemarahan dan kekerasan/kekasaran hanya akan menimbulkan kebencian dan permusuhan. Sebaliknya, kelemahlembutan dan keramahan akan lebih bisa "menundukkan" jasad dan jiwa seseorang, walau relatif membutuhkan waktu yang lebih lama.