Manajemen Rasa dalam Dakwah


Sebuah tulisan yang mencerahkan, dari seorang penulis hebat, dengan analisa yang tajam. Beliaulah beken dengan nama Nasrudin Hoja (Nasjo). Tulisan tentang dakwah dengan segala etikanya. Penasaran? Silakan baca selengkapnya.

Memikirkan akhwat, padahal bukan untuk menikah, itu menjadi racun dakwah. Fokuslah berdakwah, jadilah Ar Rizal bersama para lelaki sejati di Medan dakwah. Jangan menjadi pecundang, yang berinteraksi bukan dengan komunitasnya.

Gharizah atau naluri itu alamiah, tidak bisa dihilangkan namun bisa dialihkan. Cara terbaik untuk mengalihkannya, adalah dengan mengalihkan satu naluri ke naluri lain yang lebih tinggi. 

Gharizah itu fitrah dan alamiah, sebagaimana Al hajat Al Udlowiyah. Ketertarikan seorang Ikhwan kepada akhwat, itu alami muncul dari naluri melestarikan jenis (Gharizah an Na'u). Gharizah meskipun tidak dipenuhi namun tidak membinasakan, hanya membuat gelisah dan hati gundah.

Berbeda dengan al hajat Al Udlowiyah seperti kebutuhan akan makan. Jika tidak dipenuhi, manusia akan binasa. Kebutuhan akan makan membutuhkan pemenuhan yang bersifat pasti.

Sebagai pengemban dakwah yang belum menikah, mimpi mahligai rumah tangga itu biasa menjadi perbincangan. Termasuk, ketertarikan pada wanita, apalagi yang cantik dan rupawan, itu sering membuat terlena.

Mayoritas yang tidak mengenal dakwah, menjadikan pacaran sebagai pelampiasan atas ketertarikan pada lawan jenis. Bagi yang berdakwah, kadang juga terjebak dengan alasan 'dakwah' sehingga tidak membatasi interaksi antara Ikhwan dengan akhwat.m

Pasahal, hukum asal Ikhwan dan akhwat itu terpisah. Tanpa udzur Syar'i, para Ikhwan tidak boleh berkumpul dengan akhwat. Disana, ada larangan ikhtilat dan khalwat.
Tak Jarang, muncul barisan Kesatuan Akhwat Membutuhkan Ikhwan. Yang karena alasan dakwah, interaksi pria dan wanita kadang melanggar batas-batas yang ditetapkan syara'.

Untuk menjaga, agar kaum Ikhwan fokus dalam dakwah, jadilah KITA (Kesatuan Ikhwan Tanpa Akhwat). Yakni, pergerakan dakwah kumpulan para Ikhwan yang fokus dalam aktivitas dakwah dan menjauhkan diri dari interaksi dengan akhwat tanpa udzur Syar'i.

Diantara sebab ketertarikan, dan rusaknya Fikiran karena ingatan akan perjumpaan, itu adalah adanya atau seringnya interaksi antara Ikhwan dengan akhwat. Darisana, Munculah pepatah 'witing tresna jalaran saka kalina'. Ini tidak boleh terjadi.

Para Ikhwan pengemban dakwah, pikirannya harus dipenuhi dengan dakwah, jauhkan bayangan akhwat dari benak dan pikiran. Jika sudah merasa siap, segera ajukan diri untuk dijodohkan. 

Atau mencari informasi akhwat yang sudah siap menikah, kemudian ajukan diri untuk melamar kepada orang tuanya. Setelah menikah, barulah tumbuhkan cinta kepada istri yang telah menjadi pilihan.

Jangan coba-coba, menumbuhkan pohon cinta pada akhwat yang bukan menjadi hak mu. Pilihlah akhwat, untuk dinikahi, setelah itu semailah benih cinta, tumbuh kembangkan cinta, hingga beranak pinak dan menumbuhkan 'cinta-cinta' yang banyak.

Memikirkan akhwat, padahal bukan untuk menikah, itu menjadi racun dakwah. Fokuslah berdakwah, jadilah Ar Rizal bersama para lelaki sejati di Medan dakwah. Jangan menjadi pecundang, yang berinteraksi bukan dengan komunitasnya. [].

Belum ada Komentar untuk "Manajemen Rasa dalam Dakwah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel