Too Busy for Children

Orang dewasa kadang terlalu asyik sendiri jika sudah bertemu dengan teman-teman seusianya. Begitu juga dalam kesendiriannya, ia pun tetap tak ingin diganggu, apalagi jika menyangkut hobinya. Dunia seolah-olah milik dirinya sendiri.

Seorang anak yang selalu mengharapkan dapat bersama-sama dengan orang tuanya, walau sekedar untuk sarapan pagi, memikirkan cara untuk menarik perhatian orang tuanya. Misal, Ia menabung seluruh uang jajannya. Ia memilih berpuasa jajan asalkan uang miliknya bertambah banyak. Saat difikirnya sudah cukup, ia menelepon ayahnya agar cepat pulang ke rumah. Ia mengaku sakit kepada ayahnya. Namun cara ini tidak berhasil membuat ayahnya pulang. Sang ayah menyuruh menelepon ibunya yang juga masih di kantornya.

Pagi-pagi sekali ia sudah siap pergi ke sekolah. Ia melihat ayahnya di ruang makan. Namun, seperti biasa, sang ayah sibuk dengan koran atau handphone-nya. Ia sama sekali tak menyadari kehadiran anaknya. Si ibu masih ada di kamarnya. Katanya sih, baru sampai di rumah tadi pagi. Si anak langsung pergi ke sekolah tanpa berpamitan karena ia fikir percuma saja.

Sungguh tanpa diduga, siang-siang si anak sudah nongol di kantor ayahnya. Ia langsung menodong ayahnya dengan pertanyaan dan beberapa permintaan.
===========
Dalam sehari ayah digaji berapa oleh perusahaan?
Saya ingin ayah bekerja untuk saya selama sehari dan saya akan menggaji ayah.
Ayah tidak perlu membuat perencanaan bisnis dan mempresentasikannya.
Ayah cukup mengajari saya bersepeda di seputar komplek.

Setelah itu, ayah dapat mengajak saya ke toko es krim dan meminta kepeda pelayannya agar membuatkan balon bentuk pudel untuk saya. Setelah itu, ayah cukup duduk di sofa bersama saya.

Jika ayah berkeberatan untuk mendongeng, ayah tidak perlu melakukannya. Asalkan ayah ada di samping saya hingga saya tertidur, saya akan sangat berterima kasih.

Ini gaji buat ayah, saya akan membayarnya di muka. Jika masih kurang, ayah cukup bekerja kepada saya setengah hari saja.
============
Mungkin, fragmen di atas ada yang pernah mengalami, walau jalan ceritanya berbeda. Intinya sama, di satu sisi orang tua sibuk dengan urusannya, dan di sisi lain, anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Maka tidak heran, dengan kondisi seperti itu, banyak anak yang mencari "pelarian". Ia akan mencari "kasih sayang" dari luar rumah. Ia akan mencari kenyamanan yang tidak ia dapatkan di dalam rumah.

Pelarian anak ada yang berdampak positif bagi perkembangan dirinya. Misal ia bertemu dengan orang yang bisa menggantikan peran orang tuanya dalam hal memberi perhatian dan kasih sayang. Namun tak sedikit yang berakibat negatif. Pencarian perhatian dan kasih sayang, malah menjerumuskan si anak kepada pergaulan yang salah, sehingga menghancurkan masa depan anak tersebut.

Maka, teman-teman, yang notabene sudah menjadi orang tua, hilangkan frasa " Too Busy for Children", terlalu sibuk dengan urusan, mengkesampingkan perhatian kepada anak. Kita mafhum, bahwa anak adalah investasi dunia akhirat. Dengannya, bisa menjadi tiket kita ke surga-Nya Allah, atau sebaliknya, menjadi pendorong kita masuk ke neraka, na'udzu billah.

Wallahu a'lam
99 Ideas for Happy Mom/abufadli.com

Belum ada Komentar untuk "Too Busy for Children"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel