2 Pilihan, Teguh Pegang Prinsip tapi Tertekan atau Ikut Arus Kemaksiatan?


Umat Islam akan bahkan sedang menghadapi dilema, tetap teguh memegang prinsip keimanan namun tertekan oleh pihak yang anti kebenaran, ataukah mencari selamat walaupun harus terjebak dalam kemaksiatan. 

Sungguh situasi yang tidak mudah. Memegang teguh syariat Islam dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, akan berhadapan dengan musuh-musuh Islam, baik dari kaum kafir maupun kaum munafikun. Mereka benci kepada Islam, ketika diterapkan dalam kehidupan. Mereka sekuat tenaga dan segala tipu daya, berusaha memberangus Islam hingga ke akarnya.

Di sisi lain, ketika ada yang memutuskan untuk mengikuti arus, bermain aman, tidak berani menyampaikan kebenaran, secara tidak sadar dia sedang menjerumuskan dirinya ke lembah kemaksiatan.

Nabi yang mulia  telah menggambarkan kondisi ini, kondisi dilematis yang akan dihadapi umat beliau. Beberapa hadits berbicara mengenai masalah ini, antara lain:

Hadits #1

Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam:

يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يُخَيَّرُ فِيهِ الرَّجُلُ بَيْنَ الْعَجْزِ وَالْفُجُورِ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَلْيَخْتَرْ الْعَجْزَ عَلَى الْفُجُورِ

Akan datang pada kalian semua suatu zaman di mana seorang laki-laki akan dihadapkan pada pilihan antara kondisi ketidakmampuan dan kemaksiatan di mana-mana. Barangsiapa yang mendapatkan zaman tersebut maka hendaknya dia memilih sebagai pihak yang tertekan daripada harus melakukan tindakan kemaksiatan. [HR. Ahmad, hadits no. 7686]

Al-Haitsami menyatakan hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya‘la dari seorang syaikh yang sanadnya berakhir pada Abu Hurairah ra. Sedangkan para perawinya adalah orang-orang yang terkenal tsiqah. [Majma‘ Az-Zawâ’id (7/287)].

Hadits #2

Dari Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah Al-Khusyani dan bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka aku pun membaca ayat: 

Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. (Al-Mâ’idah [5]:105).

Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda,

بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ


‘Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya. 

Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. 

Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’.[ HR. Abu Dawud, Al-Malâhim, hadits no. 4319]

Dua hadits di atas cukuplah memberikan kita gambaran kondisi dilematis umat Islam, dan bagaimana cara menghadapinya. 

Semoga Allah subhanahu wa Ta'ala senantiasa melindungi kita dari keburukan makhluk, dan menguatkan kita memegang keimanan. Aamiin.

Teks hadits dari HIDAYATULLAH