Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kandungan QS Al-Maidah ayat 101-105 dan Larangan Bertanya Tentang Hal yang Menyebabkan Kemudharatan

Pernah mendengar atau melihat ada orang yang menanyakan sesuatu yang  tidak berguna, atau yang ketika diberikan jawaban, malah menimbulkan kemudharatan? Jika kita mau teliti dan hati-hati, ternyata perilaku tersebut merupakan salah satu kebiasaan buruk.

Paparan sederhana berikut akan mengulas perilaku/kebiasaan menanyakan sesuatu yang bukan-bukan dan mengandung kemudharatan. Berdasarkan QS Al-Maidah ayat 101-105 berupa Larangan Bertanya Tentang Hal yang Menyebabkan Kemudharatan, dan diantara pertanyaan-pertanyaan tersebut yang ditanyakan umat terdahulu adalah tentang bahiirah, saaibah, washiilah, dan  haam.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ (١٠١)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS Al Maidah :101)

Kandungan QS Al Maidah ayat 101
1. Larangan menanyakan sesuatu yang apabila dijawab akan menyusahkan si penanya.
2. Jawaban terbaik soal agama, berdasarkan Al Quran dan Hadits 

Asbabun Nuzul QS Al Ma'isah ayat 101:

Dari Anas bin Malik bahwa ketika Rasulullah SAW berkhutbah ada seseorang yang bertanya, “Siapakah bapak saya”? Nabi SAW menjawab, “Fulan”. Maka turunlah ayat ini sebagai teguran kepada yang suka bertanya hal yang bukan-bukan.(HR Bukhari)

قَدْ سَأَلَهَا قَوْمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُوا بِهَا كَافِرِينَ (١٠٢)

Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.[1] (QS Al Maidah :102).

[1] Maksudnya: sesudah diterangkan kepada mereka hukum-hukum yang mereka tanyakan itu, mereka tidak menaatinya, hal ini menyebabkan mereka menjadi kafir.

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سَائِبَةٍ وَلا وَصِيلَةٍ وَلا حَامٍ وَلَكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ (١٠٣)

103. Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.

Pengertian bahiirah, saaibah, washiilah, dan haam yang terkandung dalam QS Al Maidah ayat 103:


Bahiirah: ialah unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil air susunya.

Saaibah: ialah unta betina yang dibiarkan pergi kemana saja lantaran sesuatu nazar. Seperti, jika seorang Arab Jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, Maka ia biasa bernazar akan menjadikan untanya saaibah bila maksud atau perjalanannya berhasil dengan selamat.

Washiilah: seekor domba betina melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, Maka yang jantan ini disebut washiilah, tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.

Haam: unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi, karena telah dapat membuntingkan unta betina sepuluh kali. perlakuan terhadap bahiirah, saaibah, washiilah dan haam ini adalah kepercayaan Arab jahiliyah.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ (١٠٤)

104. apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab: "Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya". dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. 

Kandungan QS Al Maidah ayat 104:

1. Selalu ada mukmin yang menyeru manusia untuk mengikuti (ittiba') kepada syariat Allah dan petunjuk rasul-Nya dalam beribadah dan beraktivitas 

2. Di saat yang sama, banyak manusia yang menganggap kebiasaan yang turun temurun dari nenek moyangnya lebih baik dari syariat Allah dan rasul-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (١٠٥)

105. Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk[2]. hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

[2]Maksudnya: kesesatan orang lain itu tidak akan memberi mudharat kepadamu, Asal kamu telah mendapat petunjuk. tapi tidaklah berarti bahwa orang tidak disuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.

Intinya, QS Al Maidah ayat 101-105 ini adalah perintah untuk mengikuti syariat Islam dengan benar, salah satunya menjauhi kesia-siaan. Kesia-siaan yang dimaksud antara lain menanyakan sesuatu yang menyebabkan kemudharatan bagi si penanya. Wallahu a'lam.