Mengisi Peluang Mendapatkan Uang, dengan Menjadi Penjahit Keliling

 

Ketika suatu siang 'explore' Kota Bandung, menikmati jalanan yang riuh rendah dengan kendaraan, dan cuaca Ciumbuleuit yang masih dingin, pandangan mata tertuju kepada 'pemandangan' unik yang baru saya temukan. Seorang lelaki menggunakan sepeda motornya untuk berjualan bensin keliling. Selintas mirip jualan es sirop, karena memang botol bensinnya transparan. Wah kreatif juga. Di tengah segala kemodernan Kota Bandung, yang jualan bensin umumnya menggunakan kios Pertamini, lho ini beda dengan yang lain, keliling menggunakan sepeda motor.

Kembali ke Cianjur. Seseorang bernama Agus, asal dari sebuah desa di daerah Sukaluyu. Ia memang sering datang ke komplek perumahan kami. Apa yang dilakukannya? Yups, ia menawarkan jasa menjahit atau sekedar vermak pakaian, mulai dari kaos yang tipis hingga levis, ia terima. Armada yang digunakannya adalah sebuah sepeda motor jenis metik, di belakangnya disimpan sebuah mesin jahit, yang tempat duduknya didesain sedemikian rupa agar nyaman.

Pekerjaan sebagai penjahit keliling bukanlah hal yang baru dan aneh. Banyak yang melakukannya. Namun, ketika berkesempatan ngobrol, ada juga hal menarik yang bisa saya ambil. 

Ia memang memiliki bekron keterampilan menjahit sewaktu bekerja di konveksi di Jakarta. Namun, mulai 2018 ia memberanikan diri untuk menjadi tukang jahit keliling. Rute jualan jasa menjahitnya sebenarnya tidak jauh, hanya sampai Cibogo atau Raped. Namun yang keren, justru dilihat dari penghasilannya. Jika dalam kondisi ramai, bisa membawa uang ke rumah hingga 300 ribuan. Kalau lagi sepi, paling kecil 50 ribu ia dapatkan.

Jika diambil rerata 100 ribu, sebulan ia bisa mendapatkan 3 juta. Saya suka tersenyum sendiri. Betapa penghasilan sebesar itu, dilakukan seorang yang mungkin berpendidikan rendah, namun bisa lebih besar dari pendapatan gaji guru honorer, bahkan setara dengan gaji pokok ASN golongan III a.

Banyak Pejuang di Sekitar Kita

Kita mungkin sering berpapasan atau juga membeli sesuatu yang dijajakan para pedagang asongan, di sekitar kita. Ada cilok, cilung, cibay, cireng, ataupun ciwang. Ada juga seblak, makaroni, takoyaki, es cingcaw, dan lain sebagainya. 

Jika kita menyelami diri, pernahkah terbersit dalam hati, pandangan bahwa mereka orang "kecil", kurang 'terhormat", dan derajatnya di bawah kita?

Pernahkah tersirat dalam hati kita bahwa kita lebih terhormat dari mereka?

Sebenarnya tak ada sedikitpun alasan memandang orang-orang yang menjajakan dagangannya seperti yang disebutkan tadi, lebih rendah kedudukannya dibanding kita. Bahkan mungkin kalau mau jujur, penghasilan mereka bisa lebih besar dari kita. Bisa jadi, di balik "kerendahan"nya, justru mereka lebih bahagia dari kita. Di balik kesederhanaannya, bisa jadi mereka lebih memiliki rasa syukur dibanding diri kita yang selalu banyak keinginan.

Bahkan jika ditarik lebih dalam lagi, mereka lebih "berkeringat" di banding kita dalam menjemput rizki bagi keluarganya. Rasul yang mulia pernah mencium tangan seorang pemecah batu, karena perjuangannya untuk keluarga.

Jika kita peka, banyak pejuang di sekitar kita. Pejuang bagi keluarganya, dengan kerja yang sebisanya, dengan usaha semampunya.

Kisah Kang Agus dengan motornya untuk melayani jasa jahitan keliling, atau kisah tukang bensin keliling, atau juga tukang jual makanan-makanan, hanyalah sepercik kisah kehidupan yang mengajarkan kepada kita: banyak peluang untuk mencari uang.

Asal dengan didasari iman, dan rasa ikhlas, mereka adalah bagian dari pejuang kehidupan.