Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mentoring Remaja Bagian 4: Adab Penuntut Ilmu

Alhamdulillah sampai saat ini Allah 'Azza Wa Jalla masih memberi kita kekuatan dan keistiqomahan dalam menapaki jalan yang Dia kehendaki, yakni jalan dakwah. Melanjutkan materi dasar dari pembinaan atau mentoring remaja, abufadli.com kembali menyajikan suplemen materi mentoring keislaman bagi remaja khususnya. Kali ini sampai ke materi di pertemuan ke-4 dengan tema, "Adab Penuntut Ilmu".

Mentoring Remaja Pertemuan Ke-4: Adab Penuntut Ilmu

1. Adab terhadap ilmu (1): Ikhlas karena Allah

• Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu. Semata-mata hanya mengharap wajah Allah Ta’ala, bukan tujuan duniawi.

• Seorang yang menuntut ilmu dengan tujuan duniawi diancam dengan adzab neraka Jahannam.

2. Adab terhadap ilmu (2): Menunjukkan rasa takut kepada Allah

• Senantiasa menunjukkan pengaruh rasa takut kepada Allah dalam gerak-geriknya, pakaiannya dan seluruh cara hidupnya.

3. Adab terhadap ilmu (3): membersihkan diri dari akhlak tercela

• Membersihkan dirinya dari akhlak-akhlak tercela, seperti: Hasad (dengki), riya, ujub (kagum pada diri sendiri), meremehkan orang lain, dendam dan benci, marah bukan karena Allah, berbuat curang, sum’ah (ingin didengar kebaikannya), pelit, bicaranya kotor, sombong enggan menerima kebenaran, tamak, angkuh, merasa tinggi, berlomba-lomba dalam perkara duniawi, mudahanah (diam dan ridha terhadap kemungkaran demi maslahat dunia), menampakkan diri seolah-olah baik di hadapan orang-orang, cinta pujian, buta terhadap aib diri, sibuk mengurusi aib orang lain, fanatik golongan, takut dan harap selain kepada Allah, ghibah, namimah (adu domba), memfitnah orang, berdusta, berkata jorok.

4. Adab terhadap ilmu (4): Menjaga kehormatan diri

• Menjauhkan diri dari segala hal yang rawan mendatangkan tuduhan serta tidak melakukan hal-hal yang menjatuhkan muru’ah (kehormatan diri). 

5. Adab terhadap ilmu (5): menjaga syiar dan hukum Islam

• Senantiasa menjaga syiar-syiar Islam dan hukum-hukum Islam yang zahir. Contohnya shalat berjamaah di masjid, menebarkan salam kepada yang dikenal maupun tidak dikenal, amar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar ketika mendapatkan gangguan dalam dakwah.

6. Adab terhadap ilmu (6): zuhud terhadap dunia

• Zuhud terhadap dunia dan menganggap dunia itu kecil; tidak terlalu bersedih dengan yang luput dari dunia; sederhana dalam makanannya, pakaiannya, perabotannya, rumahnya.

• Tentang zuhud:

Menurut Abu Dzar al-Ghifari, “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.” (Lihat Jaami’ul Ulum wal Hikam, hal. 346)

• Menurut Abu Sulaiman Ad Daroni, “Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.” (Disebutkan oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam Hilyatul Awliya’, 9/258, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut, cetakan keempat, 1405 H)

7. Menghormati ulama, perintah Allah dan Rasul saw

• Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللهِ فَهُوَخَيْرٌلَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (QS. Al Hajj, 78:30)

• Rasulullah saw bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَم ْيُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama.” (HR. Ahmad)

8. Adab terhadap guru (1): tawadhu terhadap guru

• Diriwayatkan oleh Al–Imam Baihaqi, Umar bin Khattab mengatakan,“Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”.

• Tentang tawadhu’:Ibnu Hajar berkata,“Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Bari, 11: 341)

9. Adab terhadap guru (2): penuh hormat di hadapan guru

• Berkata Abdurahman bin Harmalah Al Aslami,“Tidaklah sesorang berani bertanya kepada Said bin Musayyib, sampai dia meminta izin, layaknya meminta izin kepada seorang raja”.

• Al Imam As Syafi’i berkata,“Dulu aku membolak-balikkan kertas di depan Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.

• Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata,“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”.

10. Adab terhadap guru (3):memandang guru dengan pandangan memuliakan

Sebagian ulama salaf berkata:“Barangsiapa tidak meyakini keagungan gurunya, tidak akan bahagia.”

11. Adab terhadap guru (4):mematuhi guru

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:“Seharusnya murid berpegangan kepada petunjukgurunya; tunduk patuh atas segala perintah, larangan dan garis-garisnya, sehingga seperti mayit di hadapan orang yang memandikan, ia berhak dibolak-balik sesuka hati.” (Syekh Ibnu hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Haditsiyyah, juz 1, hal. 56)

12. Adab terhadap guru (5):mendoakan guru


• Rasulullah SAW bersabda:


Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah dengan balasan yang setimpal. Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia hingga engkau memandang telah mencukupi untuk membalas dengan balasan yang setimpal.” (HR. Bukhori dalam al-Adab al-Mufrod no. 216, lihat as-Shohihah 254)

• Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunya sepanjang masa. Memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya dan menunaikan haknya apabila telah wafat.” (Tadzkirah Sami’ hal. 91)

13. Adab terhadap guru (6):sabar menghadapi gurunya

• Al Imam As Syafi Rahimahullah mengatakan,“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnyamempelajari ilmu karena memusuhinya”

• Allah SWT berfirman : 

وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (QS. Al-Kahfi, 18:28)

14. Adab terhadap guru (7): duduk penuh adab di depan guru

• Sheikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah didalam kitabnya Hilyah Thalibil ‘Ilmi mengatakan, “Pakailah adab yang terbaik pada saat kau duduk bersama sheikhmu, pakailah cara yang baik dalam bertanya serta mendengarkan perkataanya”.

• Berkata Sheikh Utsaimin mengomentari perkataan ini, “Duduklah dengan duduk yang beradab, tidak membentangkan kaki, juga tidak bersandar, apalagi saat berada di dalam majelis”.

• Ibnul Jamaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membentangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi darinya juga tidak membelakangi guru”. 

15. Adab terhadap guru (8): merendahkan suara di hadapan guru

Para Sahabat Nabi saw, muridnya Rasulullah, tidak pernah didapati mereka beradab buruk kepada gurunya tersebut, tidak pernah memotong ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya, bahkan Umar bin Khattab ra. yang terkenal keras wataknya tak pernah menarik suaranya di depan Rasulullah, bahkan di beberapa riwayat, Rasulullah saw sampai kesulitan mendengar suara Al Faruq jika berbicara.

16. Adab terhadap guru (9): bertanya setelah mendapat ijin

• Jangan bertanya sampai diizinkan, ini merupakan syarat Nabi Khidir as kepada Nabi Musa as, dan pula merupakan adab yang harus di ketahui seorang murid.

• Jika seorang guru tidak mengizinkannya untuk bertanya maka janganlah bertanya, tunggulah sampai ia mengizinkan bertanya.

• Doakanlahguru setelah bertanya seperti ucapan, “Barakallahu fiik” atau “Jazakallahu khoiron”, dan lain lain.

17. Adab terhadap kitab (1):membaca kitab dalam keadaan suci

Imam az-Zarnuji dalam kitabnya Ta'lim al-Muta'allim mengatakan,

Sebagian dari memuliakan ilmu adalah memuliakan kitab, maka sepatutnya bagi pelajar ilmu tidak mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci”.

18. Adab terhadap kitab (2):duduk dengan hormat di depan kitab

• Duduk dengan hormat adakala dengan bersila atau tawaruk merupakan salah satu adab terhadap kitab yang sedang kita baca.

• Saat berada dalam majelis pengajian, maka sangat dituntut untuk duduk dengan sopan.

• Jangan mendirikan kaki saat duduk.

• Duduk dengan tidak sopan dalam majelis ilmu berarti tidak menghormati kitab dan juga tidak hormat pada guru serta majelis ilmu tersebut.

• Jangan juga menjulurkan kaki ke arah kitab.

19. Adab terhadap kitab (3):meletakkan kitab di tempat yang agak tinggi

• Kitab sebagai sumber ilmu tidak boleh diletakkan di tempat yang rendah seperti di lantai, baik ketika sedang belajar atau bukan.

• Maka merupakan satu hal yang sangat bagus bila para santri membudayakan memakai meja kecil ketika belajar, baik ketika belajar diruang kelas maupun ketika muthala’ah sendiri.

• Kalaupun tidak ada meja ketika menghadiri pengajian, maka sepatutnya kitab diletakkan di pangkuan, jangan dilantai.

20. Adab terhadap kitab (4):menjaga lembaran kitab jangan berserakan

• Lembaran kitab yang sudah lusuh atau tidak digunakan lagi, jangan dibiarkan terletak dan berserakan di lantai atau tanah.

• Ada baiknya bila masih bisa dipergunakan maka diletakkan di tempat tertentu yang lebih mulia.

• Bila sudah tidak mungkin dipergunakan maka sebaiknya dibakar saja untuk menjaga kehormatannya.

21. Adab terhadap kitab (5):meletakkan kitab menurut kemuliaan ilmunya

• Bila kita meletakkan kitab diatas kitab lain, maka sangat dianjurkan untuk memperhatikan susunan tingkatan kitab yang kita letakkan tersebut.

• Kitab yang berisi ilmu yang paling mulia harus diletakkan paling atas, kemudian disusul dengan kitab ilmu yang mulia dibawahnya dan seterusnya.

• Urutan kitab menurut kemulian ilmunya adalah; mushhaf al-quran, kitab matan hadis dengan lebih mendahulukan kitab shahih Bukhari kemudian shahih Muslim, kitab tafsir al-Quran, kitab tafsir hadits, kitab ushuluddin(tauhid), kitab ushul fiqh, kitab nahwu, kitab sharaf, ilmu balaghah(ma’ani, bayan dan badi’), kitab syair-syair Arab, kitab ilmu Arudh (panduan-menyusun-syair-arab).

• Bila kitab dalam ilmu yang sama, maka diletakkan menurut kemuliaan pengarangnya, bila mushannifnya sama-sama kemuliaannya maka didahulukan kitab yang lebih dahulu dan kitab yang lebih banyak digunakan oleh para ulama shaleh.

22. Adab terhadap kitab (6)

Tidak melipat kitab dan menyimpan benda lain diatas kitab

23. Adab terhadap kitab (7)

Memulai dan mengakhiri membaca kitab dengan doa

24. Adab terhadap majelis (1):mengikhlaskan niat

Al Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya dengan apa seseorang meniatkan dirinya dalam menuntut ilmu? Maka beliau pun menjawab,

“Hendaknya dia niatkan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan daridiri orang lain.”

25. Adab terhadap majelis (2):tampil dengan penampilan yang baik

• Hendaknya seorang penuntut ilmu tampil dengan penampilan yang bersih dan rapi, memakai minyak wangi sehingga tercium aroma yang menyegarkan dari dirinya.

• Di dalam hadits Jibril ketika beliau ‘alaihissalam datang ke majelis Rasulullah saw digambarkan bahwa beliau datang dengan penampilan yang baik.

• Sayyidina Umar ra mengisahkan,



“Muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampakbekas dari perjalanan jauh.”(HR. Muslim)

26. Adab terhadap majelis (3):berlomba untuk berada di tempat terdepan

• Dari Abu Waqid al-Harits bin ‘Auf ra bahwasanya pada suatu ketika Rasulullah saw sedang duduk dalam masjid beserta orang banyak. Lalu ada tiga orang yang datang.

• Kedua orang itu berdiri di depan Rasulullah saw. Adapun yang pertama, setelah ia melihat ada tempat yang lapang dalam majelis itu dia terus duduk di situ, orang yang kedua duduk di belakang orang banyak, sedangkan orang ketiga terus menyingkir dan pergi.

• Setelah Rasulullah saw selesai, beliau bersabda, “Tidakkah engkau semua suka kalau saya memberitahukan perihal tiga orang? Adapun yang orang yang pertama (yang melihat ada tempat lapang terus duduk di situ – pent), maka ia menempatkan dirinya kepada Allah, kemudian Allah memberikan tempat padanya. Adapun yang lainnya (yang duduk di belakang orang banyak ), ia pemalu, maka Allah pun malu padanya, sedangkan yang seoranglagi (yang menyingkir dari majelis), ia memalingkan diri, maka Allah juga berpaling dari orang itu.” (Muttafaq ‘alaih)

27. Adab terhadap majelis (4):berakhlaq yang baik dengan saudaranya yang berada di sekitarnya

• Hendaknya seorang penuntut ilmu berakhlaq yang baik terhadap teman-teman dalam kajian tersebut.

• Seyogyanya dia berucap dan memperlakukansaudaranya dengan santun dan lemahlembut.

• Rasulullah saw bersabda,

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Dan bergaulah kepada manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. At Tirmidzi, dari Abu Dzar dan Muadz bin Jabal)

28. Adab terhadap majelis (5):tenang dan fokus dalam mendengarkan ceramah

Disebutkan dalam kitab Tadzkiratul Huffazh (1/242) dari Ahmad bin Sinan bahwasanya dulu di majelisnya Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah, tidak ada satu orang pun yang berbicara di dalam majelisnya, tidak ada satu orang pun yang meraut pena mereka, dan tidak ada satu orang pun yang berdiri. Seolah-olah di kepala mereka ada burung, atau seolah-olah mereka sedang berada dalam shalat. 

29. Adab terhadap majelis (6):menutup setiap majelis dengan doa kaffaratul majelis

Rasulullah saw bersabda,“Barangsiapa yang duduk di dalam suatu majelis dan di majelis itu terjadi banyak suara hiruk pikuk, kemudian sebelum bubar dari majelis itu ia mengucapkan,

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ،أشْهَدُأنْ لاإلهَ إِلاَّأنْتَ،أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ

Mahasuci Engkau ya Allah, dengan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak disembah selain engkau, aku memohon ampunanmu dan aku bertaubat kepada-Mu”, melainkan Allah mengampuni apa yang terjadi di majelis itu baginya”. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah ra)

30. Adab terhadap majelis (7): datang dan pergi mengucapkan salam

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, 


Apabila salah seorang di antara kalian sampai di satu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Lalu apabila ia hendak bangun (meninggalkan) majelis, hendaklah ia pun mengucapkan salam.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)


Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru di SMPN 1 Mande. Selebihnya, hanya seorang pembelajar��