Ngobrol dengan Aki Manis Penjual Aromanis


Namanya entah siapa, tapi biasa dipanggil dengan sebutan Ki Manis, mungkin Karena si Aki ini pekerjaannya menjual aromanis. Tahu kan aromanis? Ya sejenis kuliner dari jaman lawas, rasanya manis, disukai anak-anak.

Selalu ada yang menarik ketika berkesempatan ngobrol dengan orang-orang "besar" seperti ini. Dulu berbincang dengan tukang rujak, seputar keyakinan dalam hal rizki, ngopi bareng si aki tukang panggul, yang usia sudah uzur namun semangat tak kendur. Kali ini berkesempatan ngobrol dengan tukang aromanis.

Oh ya saya katakan mereka orang "besar" karena memang berjiwa besar. Di tengah segala keterbatasan dan kekurangan, masih tertanam sikap oftimis akan rizki dan syukur atas perolehan yang didapatkan, walau kecil dari segi ukuran.

Kembali kepada si Aki penjual aromanis ini. Usianya tak muda lagi. Ketika ditanya, berapa umur aki? Beliau menjawab sekitar 75 tahun. Sekitar, tak pasti😁. Dengan tangan rentanya beliau cekatan melayani para pembeli yang notabene anak-anak mungil. Terlihat sumringah ketika aromanis yang dijajakannya terjual sebanyak 40 buah, dengan harga per picisnya seribu rupiah.

Seribu kali 40, artinya ia mendapat uang sebesar 40 ribu. Itu modal dan laba. Jika dihitung labanya saja dua puluh ribu rupiah. Masa Allah, dengan DUA PULUH RIBU di tangan, kegembiraan terpancar dari wajahnya.

Dua puluh ribu. Hanya dua puluh ribu. Yang bagi kita mungkin dianggap sedikit, namun bagi si Aki itu adalah rizki yang sangat membahagiakannya.

Tak bermaksud mendramatisir, untuk mendapat hasil sebesar ini, si Aki harus jalan sejauh dua kilometer.

Pelajaran dari Si Aki Penjual Aromanis

Ada sejumput pelajaran yang saya sendiri dapatkan dari cerita nyata ini, antara lain:

1. Keluasan hati menerima pemberian

Rizki adalah pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dialah yang memiliki hak prerogatif untuk memberikan rizkinya kepada setiap makhluk. Adapun besar dan kecilnya, itu tergantung kehendak Allah. 

Si aki ini "mengajarkan" penerimaan yang paripurna atas pemberian dari Allah, tak peduli besar kecilnya. Karena bagi orang yang pandai bersyukur, sekecil apapun nikmat, baginya, harus diiringi dengan rasa syukur. 

Bagaimana dengan kita? 

2. Kemampuan menjaga kemauan

Usianya sudah sepuh, punggungnya sudah tak ajeg lagi, namun ia merasa dirinya harus terus menjalankan ikhtiar menjemput rizki, selagi mampu. 

Menjaga asa dan kemauan ini penting sekali, apalagi yang masih muda dan segala kuat. 

Begitulah, ini hanya sekeping cerita sederhana, menggali sisi-sisi yang bisa dibagi, yang pada akhirnya menumbuhkan aneka kesadaran, bahwa semua orang memiliki hak untuk bahagia, sepanjang ia mau memperjuangkan kebahagian itu. 

Ditulis sambil "munjungan" ke besan😁