20+ Paribasa Sunda Warisan Kolot Baheula, Penuh Makna


20+ Paribasa Sunda Warisan Kolot Baheula, Penuh Makna
- Basa Sunda, memiliki banyak khazanah kebahasaan, yang tidak sebanyak bahasa Ibu yang lain. Hanya dari satu kondisi atau personal berbeda di mana kata itu dimaksudkan, kata yang digunakan akan beda walau maknanya sama. 

Misal, dalam bahasa Indonesia, kata "makan" digunakan untuk siapa saja, tak tergantung subjek yang diajak bicara dan tidak tergantung usia, bahkan untuk binatang pun menggunakan kata yang sama. 

Berbeda dengan Basa Sunda, kata makan, yang jika diterjemahkan ke dalam Basa Sunda, kita akan mendapatkan aneka ragam kata yang berbeda walau maknanya sama. Contoh:

Makan, dalam Basa Sunda bisa berarti:

- dahar, digunakan untuk si pembicara
- tuang, digunakan untuk orang lain yang dihormati
- neda, digunakan untuk pribadi ketika berbicara dengan orang yang dihormati 
- dan sebagainya 

Itu baru dari segi kata. Ada lagi kekayaan khazanah Basa Sunda dari segi peribahasa atau Paribasa atau juga babasaan. Kita akan bisa menggali dan menemukan kekayaan khazanah literasi warisan "kolot baheula" (orang tua zaman dulu) dalam bidang "babasaan" atau "paribasa". 

Kali ini abufadli.com akan meng-share 20 lebih paribasa Sunda Warisan Kolot Baheula, yang penuh makna jika kita telisik secara cermat. Paribasa ini selengkapnya bisa Anda baca di Basa Sunda

20+ Paribasa Sunda Warisan Kolot Baheula, Penuh Makna

Berikut selengkapnya 20+ Paribasa Sunda Warisan Kolot Baheula, Penuh Makna, yang insya Allah lain waktu bisa ditambah lagi. 

  • Ngeduk cikur kedah mitutur, nyokel jahé kedah micarék, ngagégél kudu béwara.

(Di dalam setiap pekerjaan perlu kita menghormati hak orang lain serta aturan sopan santun yang berlaku. Jika akan mengambil sesuatu harus izin terlebih dahulu kepada yang punya, tidak boleh korupsi, mencuri, dan sebagainya)

  • Sacangreud pageuh sagolek pangkék

(Harus bisa menepati janji dan konsisten, tidak melanggar kesepakatan, jangan menarik kembali apa yang telah diucapkan atau dijanjikan sebelumnya)

  • Ulah lanca linci luncat mulang udar tina tali gadang

(Jangan pernah ingkar atau membohongi janji sendiri, kita harus memiliki pendirian yang teguh)

  • Ulah lali ka purwadaksina

(Jangan lupakan asal-usul kita, jangan merubah adat kebiasaan , jangan menjadi sombong dan angkuh, serta jangan melupakan keluarga sendiri atau berubah perilaku karena telah menjadi orang kaya atau berpangkat tinggi)

  • Nyaur kudu diukur nyabda kudu diungang

(Jika berbicara jangan sembarangan, segala perkataan harus dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum diucapkan, berbicara harus tepat, jelas, dan bermakna. Senantiasa mengendalikan diri dalam berkata-kata)

  • Kudu hadé gogog hadé tagog, hade omong bari hade lampah

(Harus baik budi bahasa dan tingkah laku, serta harus konsisten dengan perkataan dan perilakunya)

  • Kudu silih asih, silih asah jeung silih asuh

(Harus saling menyayangi, memberi nasihat, mengayomi dan senantiasa hidup rukun)

  • Ulah ngaliarkeun taleus ateul

(Jangan menyebarkan perkara atau hal yang dapat menimbulkan keburukan. Jangan menyebarkan omongan kosong yang dapat menimblkan pertentangan, perselisihan, perpecahan. dan Jangan pula menyebarkan isu, gosip, hoax, menghasut, memfitnah, menghujat, dan sebagainya)

  • Bengkung ngariung bongkok ngaronyok

(Bersama-sama dalam suka maupun duka. Kompak dalam hal menghadapi kesulitan dan segala masalah harus diselesaikan secara bersama)

  • Bobot pangayom timbang taraju

(Semua yang dilakukan harus penuh pertimbangan)
  • Lain palid ku cikiih lain datang ku cileuncang

(Bukan hadir karena tanpa tujuan, bukan datang tanpa maksud tertentu)

  • Tarajé nangeuh dulang tinandé

(Suatu pernyataan kesetiaan dan siap dalam melaksanakan kewajibban atau perintah, khususnya seorang istri kepada suaminya)

  • Ulah pagiri- giri calik, pagirang- girang tampian

(Jangan berebut kekuasaan dan syirik. Tidak baik berlomba dalam segala perkara atau hal untuk saling memanas-manasi antara sesama)


  • Ulah ngukur baju sasereg awak

(Janganlah mempertimbangkan sesuatu hanya dari segi kepentingan pribadi, seseorang dalam kehidupan bermasyarakat tidak boleh hanya memikirkan kepentingan pribadi, sebaiknya dia juga merasakan kesedihan dan kegembiraan orang lain, jangan hanya melihat dari kaca mata sendiri)

  • Ulah nyaliksik ka buuk leutik

(Jangan mencari keuntungan dari rakyat kecil, jangan memperalat maupun memeras yang lemah, membesarkan perkara yang dapat merugikan rakyat kecil)

  • Ulah kuméok méméh dipacok

(Jangan kalah sebelum bertanding, Jangan malas sebelum mencoba. Seorang kesatria jangan mundur sebelum dia berupaya keras).

  • Mun teu ngoprék moal nyapék, mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih

(Bila kita tidak mau berpikir, berikhtiar atau berusaha tidak ada yang akan dimakan, dipakai, atau di diami. Segalanya harus dicari dengan menggunakan segala daya yang ada pada kita sehingga bermanfaat untuk kehidupan kelak)

  • Neangan luang ti papada urang

(Belajarlah untuk mencari wawasan serta pengetahuan dari pengalaman orang lain)

  • Nu lain kudu dilainkeun nu enya kudu dienyakeun, nu ulah kudu diulahkeun
(Segala sesuatu harus dikatakan berdasarkan dari kenyataan, jangan mengingkari fakta yang terjadi. Senantiasa hidup dalam kejujuran demi kepentingan bersama)

  • Kudu paheuyeuk- heuyeuk leungeun paantay-antay panangan

(Harus saling tolong-menolong, saling bekerjasama membangun kemitraan. Seia-sekata, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul)

  • Kudu silih asih, silih asah, jeung silih asuh


(Kita harus saling mengasihi, mengasah, dan juga saling mengasuh antar sesama manusia)

  • Ngeduk cikur kedah mihatur nyokel jahe kedah micarek

(Kalau kita mau mengambil sesuatu itu, harus izin dulu dengan yang punya)

  • Ulah keok memeh dipacok

(Jangan menyerah sebelum mencoba)

Demikian 20+ Paribasa Sunda Warisan Kolot Baheula, Penuh Makna ini semoga menjadi tambahan literasi bagi kita yang sedang mendalami Basa dan Budaya Sunda, kebanggaan kita.

Referensi: Basa Sunda