Fiqih Tata Cara Membayar Fidyah

Tribun

Fiqih Tata Cara Membayar Fidyah -
Ramadhan telah usai, dan Idul Fitri menjelang. Dalam Ramadhan, ada sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang sudah baligh yakni shaum Ramadhan. Namun dalam perjalanan shaum, ada saja yang menjadi sebab seseorang tidak sempurna menjalankan shaumnya hingga ia harus meng-qadha shaum, ataupun membayar fidyah, sesuai jenis uzur Syar'i-nya. 

Untuk hal terakhir yakni membayar fidyah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Abufadli.com mencoba menampilkan bahasan tata cara membayar fidyah beserta dalil dasar pelaksanaannya, yang disampaikan Ajengan Aef (Saefudin Abdul Fatah), pengasuh Pesantren Daarul Ihsan Cimahi dan Bandung. 

Dalil Fidyah

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

"(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. 

Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui".(QS Al Baqarah :184

Berangkat dari dalil Al-Qur’an diatas berikut di bawah inilah Fikih tata cara fidyah dan hal-hal yang terkait dengannya:

1.Prinsipnya kita dianggap telah sah membayar fidyah jika telah memberi makan kepada satu orang miskin untuk satu hari shaum yang kita tinggalkan 1 mud ( 0,6 Kg atau 3/4 Liter).

2.Sebaiknya fidyah adalah dalam bentuk makanan pokok (di Indonesia beras)karena Al-Qur’an menyebut memberi makan. 

3.Boleh makanan pokok yang mentah diberikan kepada orang miskin

4.Boleh juga makanan yang sudah dimasak dengan cara orang miskinnya yang diundang

5.Jika mengikuti ulama yang memboleh dengan bentuk uang(harganya) maka takarannya seukuran harga kebiasaan kita sekali makan 

6. Boleh fidyah kepada seorang miskin untuk beberapa kali fidyah kita

7.Jika orang-orang miskin disekitar kita banyak lebih utama disebar. Contoh, 7 kali tidak shaum memberikan fidyah kepada 7 orang miskin

8.Kita dapat membayar fidyah, pada hari itu juga ketika kita tidak melaksanakan shaum

9.Boleh juga diakhirkan sampai hari terakhir bulan Ramadhan dibayarkan sekaligus sebanyak tidak shaum

10.Tidak boleh pembayaran fidyah dilakukan sebelum Ramadhan, walau kita sudah mengira tidak akan bisa shaum ramadhan

Adakah Batas Akhir Fidyah?

Sebenarnya Waktu akhir penunaian fidyah tidak dibatasi. Fidyah tidak mesti ditunaikan pada bulan Ramadhan, bisa pula ditunaikan sesudah Ramadhan. 

Ayat yang menyariatkan fidyah yaitu:

وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

...Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 184)

Ayat tentang fidyah diatas tidaklah menetapkan waktu tertentu sebagai batasan. Maka fidyah ditunaikan sesuai kelapangan, walau ditunda beberapa bulan sesudah ramadhan bagi yang punya keterbatasan Rizki.

Tapi supaya shaum kita sempurna di hari raya dan kembali fitrah seperti orang yang melaksanakan shaum maka ditunaikan diakhir ramadhan sebelum idul Fitri adalah lebih utama.

Sebagaimana selalu dilakukan para sahabat dan orang-orang salafush Sholeh yang berhalangan shaum.

Salahsatunya dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau telah berada di usia senja dan tidak kuat lagi puasa beliau menunaikan fidyah bersamaan dengan mengeluarkan zakat fitrah.

Wallahu A’alam Bishowaab..

Hukum-hukum fikih diatas masih ada beberapa poin yang masih diperselisih pendapatkan para ulama, jadi dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada yang berfaham berbeda. 

Demikian pembahasan singkat fikih tata cara fidyah beserta dalil Al Qur'an yang mendasarinya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. 

Referensi: Bukhari, Fikih Islam, syarhul Mumthi’, I’anatutholibiin, Taqrib.