-->

Ulasan Puisi "Hidayah Pun Enggan Singgah"

Ulasan Puisi "Hidayah Pun Enggan Singgah" (Nina Gartina) - Sebagaimana senapan, senjata para tentara, atau busur dan anak panah, senjata andalan pemanah, begitu juga puisi, juga senjata para penyair, atau mungkin seseorang yang sedang jatuh hati, atau juga mungkin patah hati. Para penyair dengan tingkat intelejensi tinggi, memilih diksi untuk mengungkap segala yang terjadi. 

Bagaimana kedudukan penyair menurut pandangan Islam? Ada dua kondisi tentang penyair. Ini digambarkan dalam Al Qur'an Surah Asysyu'ara ayat 224-227.

وَالشُّعَرَآءُ يَتَّبِعُهُمُ الۡغَاوٗنَؕ‏
Washshu 'araaa'u yattabi 'uhumul ghaawuun

"Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat"

اَلَمۡ تَرَ اَنَّهُمۡ فِىۡ كُلِّ وَادٍ يَّهِيۡمُوۡنَۙ‏
Alam tara annahum fii kulli waadiny yahiimuun

"Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah",

وَاَنَّهُمۡ يَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا يَفۡعَلُوۡنَۙ‏
Wa annahum yaquuluuna ma laa yaf'aluun

"dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?"

اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَذَكَرُوا اللّٰهَ كَثِيۡرًا وَّانْتَصَرُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُوۡا​ ؕ وَسَيَـعۡلَمُ الَّذِيۡنَ ظَلَمُوۡۤا اَىَّ مُنۡقَلَبٍ يَّـنۡقَلِبُوۡنَ‏

Illal laziina aamanuu w a'amilus saalihaati wa zakarul laaha kasiiranw wantasaruu mim ba'di maa zulimuu; wa saya'lamul laziina zalamuuu aiya munqalbiny yanqalibuun

"Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzhalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir). Dan orang-orang yang zhalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali."

Gambar dari LINE

2 Tipe Penyair

Menurut ayat-ayat di atas, ada dua kondisi atau mungkin tipe penyair, yaitu:

1. Penyair yang menuliskan kata-kata indah, mengembara dengan beraneka kata, diikuti orang yang sesat, dan menuliskan apa yang tidak dikerjakannya, dan menjadikan puisi sebagai kata-kata kosong yang membuai tanpa makna.

2. Penyair yang beriman kepada Allah, yang menuliskan kata-kata terpilih untuk mengingatkan diri dan orang lain akan keagungan Allah, mengingatkan tentang muhasabah dan perbaikan diri, juga menggunakan puisi sebagai media untuk berdakwah.

Maka, sebagai muslim, seorang penyair atau yang Allah beri kelebihan untuk merangkai kata menjadi puisi, akan menjadikan puisi sebagai media untuk mengingatkan terhadap ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, menjadi media refleksi bagi perbaikan diri, dan media berbagi kemanfaatan bagi kehidupan.


Puisi "Hidayah Pun Enggan Singgah" (Nina Gartina)

Seperti puisi berikut ini, kiriman dari sahabat kami, Nina Gartina. Sebuah puisi berjudul "Hidayahpun Enggan Singgah". Sebuah puisi berisi curahan hati mengingatkan diri untuk introspeksi diri, yang pada ujungnya, harapan untuk meningkatnya ketaatan. 

Hidayah Pun Enggan Singgah

Tertipu angan-angan panjang
Hisab diri
Sebelum tiba mati dan diri minta kembali
Mengapa ayat-ayat ini pergi dari hati?
Berlalu begitu saja setelah ku dengar, jua ku baca

Dosa ini ya dosa ini
Begitu hidayah enggan tuk singgah
Bagaimana ini?
Yakin mau terus bagaimana?
Beribu tanya terus mendera

Menerawang angan pada masa dan dosa
Berharap setiap detik terbukanya hati
Terpatri
Diri terus diperbaiki

Duhai yang Maha Segala
Mohon ampukan segala alfa
Hingga hidayah
Tak enggan singgah

Ulasan Seadanya tentang Puisi Hidayah pun Enggan Singgah

Tertipu angan-angan panjang
Hisab diri
Sebelum tiba mati dan diri minta kembali
Mengapa ayat-ayat ini pergi dari hati?
Berlalu begitu saja setelah ku dengar, jua ku baca

Begitu banyak ayat yang dibaca, atau mungkin dihafal, namun berlalu begitu saja, tanpa berbekas. Mungkin kita faham akan maknanya, namun abai dalam prakteknya dalam kehidupan. Begitu berat untuk mengatakan dan mengamalkan, "sami'na wa atho'na", kami dengar dan kami taat. Yang ada adalah, "sami'na wa 'ashoina", kami dengar dan kami abaikan. Astaghfirullah.

Mengapa ini semua terjadi?

Dosa ini ya dosa ini
Begitu hidayah enggan tuk singgah
Bagaimana ini?
Yakin mau terus bagaimana?
Beribu tanya terus mendera


Semua ternyata gegara dosa. Ya dosa. Begitu bebalnya diri, padahal Allah dengan ayat-ayat-Nya yang begitu agung, banyak mengingatkan. Allah dengan rahman dan rahim-Nya banyak memberi tuntunan, namun kita masih "ngeyel" dengan ayat-ayat-Nya. Kita masih memilih dan memilah, ayat mana yang sesuai dengan nafsu, dan mana yang tidak sesuai. Kita banyak mengambil ayat yang menyenangkan syahwat diri, dan mengenyahkan yang seolah menyusahkan.

Setelah segala tanya terjawab, mengapa kita susah menjalankan apa yang dibaca dari Al Qur'an? Jawabnya ada dalam diri, bahwa kita banyak dosa, bergelimang dalam lumpur kemaksiatan, jauh dari ketaatan. Lalu harus bagaimana?

Menerawang angan pada masa dan dosa
Berharap setiap detik terbukanya hati
Terpatri
Diri terus diperbaiki


Jawabnya: Mengingat segala dosa di masa silam, berharap setiap saat terbuka hati, dan mematri diri untuk memperbaiki diri. Berharap dan memulai langkah untuk menyongsong hidayah dan istiqomah. Selalu memperbaharui niat dan tekad, sebelum tiba kematian, sisa hidup diisi dengan ketaatan. 

Namun kita tak berdaya. Kita lemah di hadapan Allah Sang Musta'an. Kita sangat membutuhkan pertolongan dari-Nya. Maka setiap saat kita lantunkan harap melalui doa terbaik kepada Allah Assami'uddu'a.

Duhai yang Maha Segala
Mohon ampukan segala alfa
Hingga hidayah

Tak enggan singgah 

Ya Robb...kami lemah, kami tak berdaya. Kami menginginkan hidup penuh kemuliaan dan wafat dengan penuh keridhoan, maka kuatkan tekad dan langkah kami untuk menyongsong karunia agung-Mu, yakni hidayah dan istiqomah. Bimbing kami menuju syurga-Mu.

Ya Robb ampunkan segala dosa kami. 

Masya Allah....semoga coretan sederhana ini menjadi setitik pemantik bagi kita untuk selalu berazzam memperbaiki diri, menyongsong keberkahan karena ketaatan terhadap segala syari'at dari-Nya. 

Seputar puisi, ada di www.tuahberkah.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel