-->

Ulasan Puisi "Rintik Rasa" , tentang Hujan yang Penuh Romansa

Ulasan Puisi "Rintik Rasa"  (Nina Gartina) - Hujan. Sebuah kata biasa, hal yang biasa. Namun akan berbeda jika dilihat dari sisi yang berbeda, lebih mendalam, dan buah dari pemikiran dan perenungan nan cemerlang. Tetes demi tetesnya memberi arti, gulir dan rintiknya memberi makna.



Hujan tak sekedar rintik air yang turun ke bumi, namun ia memiliki karakteristik yang digambarkan langsung oleh penciptanya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ
"Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen" (TQS Qaf: 9)

Dari ayat di atas kita memahami bahwa hujan itu karakter utamanya memberi berkah. Menumbuhkan yang berhak tumbuh, memberi manfaat, dan memberi harapan.

Gambaran tentang hujan, dilihat dari kaca mata sastra, akan memberi makna sama. Bahwa ia hadir untuk memberi kesejukan bagi alam dan jiwa, menumbuhkan harapan, mengajarkan kelembutan sekaligus ketegasan.

Adalah sebuah karya Nina Gartina dengan tajuk "Rintik Rasa", akan mengajak Anda memahami rintik hujan dari sisi yang berbeda.

Rintik Rasa

Bulir imutmu jatuh perlahan
Menghentakan air kolam yang tenang
Kau hadir, penuh kelembutan

Dalam desir pagi berbalut sinar mentari yang masih malu-malu
Kamu pemenangnya di atas bumi pagi ini
Raja siangpun menahan hangatnya

Hai rintik pagi ini
Kau membawa syahdu penuh rindu, akan segalanya

Gelombang alfa seketika
Atas jiwa dan rasa
Alunan romansa pun, kuat mendera

Maka, tak kuharap kau segera usai
Kau begitu lembut penuh buai
Menarik ulur cerita lampaui
Penuh Harmoni

Bawalah rasa ini
Tak sebatas untuk ku nikmati
Bawalah rasa ini
Supaya diri ingat mati

Argh...apa yang kubawa?!?
Semua seolah tanpa sadar kuperankan
Dinginpun tiba-tiba serasa barisan raja rimba
Menerkam jiwa yang penuh kepongahan

Bawalah romansa dingin ini, tuk raih ayat-ayat-Mu

Dalam hujan-Mu

Nina Gartina
Di suatu pagi awal Juli 2021 09.28 WIB

Nilai apa yang kita dapatkan dari membaca puisi tersebut?

1. Keindahan

Bulir imutmu jatuh perlahan
Menghentakan air kolam yang tenang

Setiap bulir air hujan yang jatuh ke bumi, memperlihatkan keindahan tiada tara, Maha Karya Sang Pencipta. Jatuh ke kolam, membangunkannya dari lelap, dan menyambutnya dengan riak penuh sukacita. Melihat pemandangan ini, hati siapa yang tak terpikat?

2. Kelembutan

Kau hadir, penuh kelembutan

Tetes demi tetes hujan, menyapa bumi dengan penuh sentuhan kelembutan, menyegarkan dan tak melukai.

Dalam desir pagi berbalut sinar mentari yang masih malu-malu
Kamu pemenangnya di atas bumi pagi ini
Raja siangpun menahan hangatnya

Maka dengan hadirnya yang penuh kelembutan, semua memberi jalan dengan kerelaan. Semua tak dipaksakan, penuh penerimaan. 

3. Kerinduan

Hai rintik pagi ini
Kau membawa syahdu penuh rindu, akan segalanya

Setiap bulir hujan, memancarkan keindahan, berjatuhan dengan penuh kelembutan, disambut riak air kolam, sungguh ini memunculkan kerinduan. Kerinduan terhadap apa?

Gelombang alfa seketika
Atas jiwa dan rasa
Alunan romansa pun, kuat mendera

Kerinduan terhadap segala. Maka simponi rintik hujan, menjadikan irama romansa dalam jiwa terbangkitkan, makin lama makin mendera.

Maka, tak kuharap kau segera usai
Kau begitu lembut penuh buai
Menarik ulur cerita lampaui
Penuh Harmoni

Ada kerinduan yang menggelora, ada romansa dalam jiwa. Tak kuharapkan rintikmu berhenti, biarlah diri ini menikmati, buaian lembut penuh harmoni.

Bawalah rasa ini
Tak sebatas untuk ku nikmati
Bawalah rasa ini
Supaya diri ingat mati

Apa yang dirindui? Apa yang diingini? Tiada lain, bahwa semua rasa ini membawa kepada kesadaran, bahwa diri akan mati.

4. Kesadaran

Argh...apa yang kubawa?!?
Semua seolah tanpa sadar kuperankan
Dinginpun tiba-tiba serasa barisan raja rimba
Menerkam jiwa yang penuh kepongahan

Lama menikmati buaian rintik hujan, terbuai dalam romansa keindahan, tiba-tiba tersadarkan dengan rasa dingin yang menghampiri. 

Ya rasa dingin ini seumpama barisan raja rimba yang menrkam diri, yang penuh kepomgahan, kadang abai akan kelemahan di hadapan Sang Maha Raja, kadang abai bahwa kesenangan di dunia hanya sementara.

5. Pengharapan

Bawalah romansa dingin ini, tuk raih ayat-ayat-Mu, Dalam hujan-Mu

Pada akhirnya, semua rasa ini dipanjatkan kepada  Allah Sang Penguasa Alam, seraya berharap, rintik hujan ini mengantarkan kepada pemahaman akan kebesaran ciptaan-Nya.

Denikian sahabat, sebuah ulasan sederhana terhadap puisi "Rintik Rasa", buah karya Nina Gartina. Semoga berlimpah makna.

Tentang puisi, ada di tuahberkah.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel