-->

Ketika Persiapan Kematian Hanya Wacana dan Rencana, Sebuah Puisi Muhasabah Kematian



Amih, biasa beliau dipanggil anak-anaknya, ibunda Bu Siti Jenab, salah seorang guru di SMPN 1 Mande, hari ini dipanggil Allah untuk menghadap ke haribaan-Nya. Sudah purna menunaikan jatah kehidupannya. Lagi-lagi sebuah nasehat terbaik bagi kita, KEMATIAN. Bahwa kita akan mati. Sekian banyak kematian di hadapan, namun kita masih bebal dalam persiapan.

Padahal kita faham betul dengan banyak nash yang menerangkan bahwa kematian adalah nasehat terbaik bagi kita,  dan  kematian pun adalah pemutus kenikmatan. Bahkan  orang mukmin yang banyak mengingat mati dan mempersiapkan perbekalannya untuk kehidupan setelah kematian, adalah orang yang cerdas.

Nabi yang mulia bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
Artinya: “Orang cerdas adalah orang yang rendah diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Allah,” [HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah].
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu mengingat kematian”. [HR Tirmidzi, Nasai, Ahmad dan Ibnu Majah, No. 4.258 ].

Menjadi Kewajiban, Banyak Mengingat Kematian

Banyak nash yang memberitakan sebuah kepastian, kita akan berjumpa dengan kematian. Bahkan dalam kenyataan, ada orang-orang tercinta yang dipanggil lebih dahulu. Ada sahabat, tetangga, yang mendahului menemui Sang Pencipta. Kita perlu diingatkan dengan bebagai cara, agar selalu ingat akan hari perpisahan dengan dunia. Salah satunya dengan puisi.

Adalah sebuah puisi yang bejudul "Ketika Persiapan Kematian Hanya Wacana dan Rencana", sebuah upaya muhasabah dari seorang guru, Nina Gartina. Sebuah puisi yang berbicara mengenai kepastian kematian. Namun di sisi lain, "menertawakan" diri yang meyakini kepastian itu namun persiapan menyongsong pemutus kenikmatan dunia tersebut, kebanyakan masih wacana dan rencana. Banyak abai dan menunda.

Ketika Persiapan Kematian Hanya Wacana dan Rencana

Kematian adalah sebaik-baik nasehat
Ya, memang sebaik-baik nasehat
Karena belum taat
Selalu terperanga
Saat dengar kabarnya

Degup dada tak lagi berirama
Tetiba hanya sesak yang ada

Penopangpun tanpa daya
Semua serasa terhenti seketika

Duhai kematian

Diri sering berwacana
Ayolah persiapan
Baikmu jangan hanya rencana

Jemantik ini pasti kan berkata
Mata ini pasti tak kan berdusta
Kau raih semua yang kau mau
Sayang, kau tunda semua yang oleh-Nya seru

Duhai nafsu

Seringnya lena dunia, sukar dielakkan
Terasa semua akan terus bertahan
Dikejar, tanpa banyak alasan

Tetiba, degup ini diambil kembali oleh-Nya
Bahagiakah karena wacana dan menunda?

Ulasan Sederhana

Tak banyak kata yang bisa saya ungkap untuk menanggapi puisi di atas. Hati meyakini bahwa mati itu pasti, namun tetap saja Karena belum taat, Selalu terperanga Saat dengar kabarnya Degup dada tak lagi berirama, Tetiba hanya sesak yang ada.

Kematian adalah pintu menuju alam keabadian. Kita akan menempuh jalan yang amat panjang yang memerlukan bekal iman dan amal. Lalu Diri sering berwacana, dan hati menyemangati, Ayolah persiapan. Jiwa berkata, Baikmu jangan hanya rencana.

Namun nafsu memburu dan menipu, seolah dunia surga yang diidamkan Seringnya lena dunia, sukar dielakkan. Terasa semua akan terus bertahan. Dikejar, tanpa banyak alasan. Kita lalai, kita abai.

Bagaimana jika Tetiba, degup ini diambil kembali oleh-Nya. Bagaimana jika ajal menjemput, tanpa aba-aba, tanpa tanda-tanda. Bahagiakah karena wacana dan menunda?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel