Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi-puisi tentang Secangkir Kopi - Apresiasi Bagi Para Penyair Muda

Puisi-puisi tentang Secangkir Kopi -Apresiasi Bagi Para Penyair Muda. Kali ini dalam rubrik sastra, saya tidak akan mengulik makna puisi, atau mengulas puisi, namun hanya akan menampilkan puisi. Puisi tentang secangkir kopi, dengan makna dan suasana yang berbeda, sejalan dengan pemikiran pembuatnya. 

Secangkir kopi, akan memberi kesan, makna, suasana, dan dampak yang berbeda, dilihat dari sudut pandang setiap insan. Secangkir kopi bisa dianggap teman penghilang galau, atau pendorong motivasi, atau juga menjadi sarana penghangat suasana. Semua tergantung siapa dan dalam kondisi apa semua terjadi. 

Untuk menambah literasi di bidang puisi, kali ini saya suguhkan beberapa karya para penyair muda di grup puisi, yang kurang lebih temanya sama, puisi tentang secangkir kopi.

Selamat membaca dan menyelami maknanya. 


Secangkir Kopi dalam Kabut

Karya : Kaljohar

Bersandar ku teguk secangkir kopi
kulemparkan rerumputan ke dalam api
Memandang inginku yang tak bertepi
Namun tak satupun yang ada di sisi

Ya Rabb, Penguasa Hati

Tak lelah ku bercerita padamu tentang ini
Izinkan jiwa ini temukan pendamping diri
Temani aku melalui hari
Sampai tiba masanya nanti
Jasad ini mati

Malam mulai bergulir cepat
Ketika sujudku kian rapat
Saat pikiran ku mulai melambat
Hanya lafadz mu ku rasakan kian kuat

Malam berganti pagi
Ku sambut dengan ceria hati
Berharap sosoknya bukanlah kembali ilusi

Duhai, Sang Pemilik Mentari
Aku hanya memiliki raga ini
Dan juga sebuah hati yang berjanji
Untuk dia Bilakah nanti

Aku akan selalu mencintai

Hujan di Senjaku

Karya Erma Tasik

Sepi menelan tiap warna dari matamu
Meluahkan sakit dari tiap luang pori-pori
Secangkir kopi menguarkan aroma rindu
Mencatat satu-satu rintik rasa yang berkelindan dalam memori

Hari ini hujan berlarian di pelataran senja

Memerangkapmu dalam belitan nuansa maya
Derai asa berjatuhan, mengalir menjauhi cahaya
Kau coba mengurung petrichor dalam botol elegi.

Aku bersandar pada tiang penantianku

Menghitung detak jarum jam serupa detak jantungku
Tiga ratus tiga puluh empat detik berlalu
Sejak pertama kali kau terpusat dalam pandangku.

Kamar yang dingin di kampungku

Tentang Cinta yang Pergi dan Belum Terganti


Karya : Agatha 16

Malam ini
Dengan secangkir kopi yang sudah kau meneguknya tadi
Imaji pun berdiri, mengantri untuk membuahkan puisi

Tentang waktu yang terus melaju
Bahwa ia tak bisa menunggu
Tentang cinta yang pergi dan belum terganti dengan hati yang baru
Dan tentang ilmu yang belum kau peluk, lalu kau simpan rapi
Tentang surga yang lebih indah dari harta dan lebih indah dari fana

Ah, sudah kenakankah kau jaket bijak?
Agar kau tangguh dalam menghadapi musuh,
Menghadapi iblis yang kesepian di nar

Kendarai laju tekadmu!
Nikmati juang, maka kau pemenang

Hujan di Tengah Kota

Karya : Fadraya21

Gemericik suara kecil beradu diantara ganas roda berpacu. Ia jatuh dari tempat yg teramat jauh, membasahi tiap jiwa yg berada dibawahnya.

Hadirnya membawa sejuk damai diantara carut marut penghuni kota. Berbisik manja, mengajak tuk rehat sejenak. Menikmati kembali secangkir kopi panas meski sesaat.

Hujan tengah kota, membuka imaji canda dan tawa. Membasuh kisah tandus penghuni kota, menyapu air muka lusuh, para pengejar cita

Hi hujan, salam sejuk ku untukmu, datang lah kapan pun kau mau. Suasana sendu damai mu selalu ku tunggu.

Secangkir Pagi pada Segelas Kopi

Karya : Revoltheart

Hujan hanya
membawa kerinduan

Tak ada percakapan
yang terlampau dini

Secangkir pagi

pada segelas kopi

Di meja kayu,
Duduk di kursi
Buku-buku

Cintakah
Aku?

Sebuah Evaluasi untuk Diriku 

Karya : Rariz_7

Secangkir kopi yang menjadi harapan
Tanpamu hidup harus tetap berjalan
Ada dan tiadamu biarlah menjadi urusan Tuhan

Melangkah kejalan yang lebih terarah itu adalah sebuah pilihan
Karena hidup adalah sebuah perjalanan bukan angan-angan
Waktu terus berputar dan aku masih diambang kekhawatiran
Bagaimana nasibku dimasa depan, bila tak di persiapkan sekarang

Sudahlah menjadi dewasa saja, tak perlu memaksa seseorang agar mencintaiku
Cintai saja diriku dan orang yang berada di sekitarku
Lagi pula aku punya Tuhan yang mencintaiku dengan utuh

Tentangmu aku sudah relakan walau masih banyak belum sempat aku katakan padamu
Teruslah berjalan diatas mimpi-mimpi mu aku pun begitu
Jika suatu nanti kita pertemukan kembali kamulah seseorang enggan aku lepaskan dalam pelukan
Jika tidak percayalah pilihanmu yang terbaik untukmu

Selamat bertumbuh dan menjadi dewasa

Demikian Puisi-puisi tentang Secangkir Kopi, sebuah ikhtiar menorehkan Apresiasi Bagi Para Penyair Muda. Terima kasih sudah berkunjung. 
Deni Abu Fadli
Deni Abu Fadli Seorang pendidik di SMPN 1 Mande. IG dan YT: @kangdeni76