Lebih Baik Diasingkan Daripada Menyerah Kepada Kemunafikan

Tak sengaja singgah di sebuah website yang sepertinya mengkhususkan di bidang bahasa, atau lebih tepatnya kata-kata penuh makna dari banyak tokoh. Nama website itu, jagokata.com.


Sebuah quote berbunyi, "Lebih Baik Diasingkan Daripada Menyerah Kepada Kemunafikan", dari seorang tokoh pergerakan masa lalu.  Sepertinya bernada pesimis, apatis, dan lari dari pergulatan kehidupan. Benarkah?

Tulisan ringan ini mencoba memaknai kalimat di atas.

Lebih Baik Diasingkan Daripada Menyerah Kepada Kemunafikan

Di hadapan, terbentang banyak jalan dan pilihan. Semua terdistorsi menjadi dua opsi utama, kebenaran dan kebatilan. Setiap opsi, terkandung konsekuensi. 

Jika kita mencoba berbaur dengan kebatilan, maka seperti itulah diri kita, menjadi pengagum yang batil.

Jika kita terbawa untuk melakukan kebatilan, maka jadilah kita penyuka hal yang batil.

Jika kita menikmati kebatilan, ya jadilah kita ahli kebatilan.

Amsal pertama, jika di sebuah institusi, marak dengan kelicikan dan kecurangan, baik dalam sistem maupun anggaran. Siapapun di sana, yang secara kompak melakukannya, maka secara pergaulan, "aman". Ia akan diterima semuanya, tidak di-bully, dan tidak diasingkan. 

Amsal kedua,  di sebuah masyarakat, kesyirikan, khurafat, riba dan zina misalnya, dianggap biasa dan mereka cenderung permisif, maka langkah "aman"nya, adalah mendiamkan, atau bahkan ikut melakukan.

Amsal ketiga, jika di sebuah negara, walaupun sistemnya salah dan bertentangan dengan Islam, maka langkah "aman" warganya adalah dengan sama-sama mengikuti sistem itu, memusuhi yang bertentangan dengannya, dan dibumbui dengan teriakan yang seragam, "TITIK-TITIK HARGA MATI". 

Di ketiga kondisi itu, yang mayoritas sama dan seirama, maka "aman"lah mereka. 

Sedangkan bagi siapapun yang masih punya nurani dan logika, yang masih berpegang teguh pada prinsip dan nilai-nilai ISLAM,, yang mencoba mendobrak kebatilan-kebatilan yang ada di hadapan, yang dengan keikhlasan menawarkan solusi ISLAM dengan segala kelengkapan syariatnya, maka sudah fahamlah bagi kita akibatnya. DIASINGKAN, DIPERSEKUSI, dan bahkan DIKRIMINALKAN.

Begitulah, jalan kebenaran itu berliku, dan melelahkan. Namun jika tetap istiqomah di jalani, puja puji dan sanjungan penduduk langit akan didapati, walau penduduk bumi mencaci.

Maka benar kiranya kalimat dari tokoh tadi yang mengatakan, "Lebih Baik Diasingkan Daripada Menyerah Kepada Kemunafikan".

Pertanyaannya adalah....
Kita ada di posisi yang DIASINGKAN karena menyuarakan kebenaran ISLAM, ataukah pada posisi MENYERAH KEPADA KEMUNAFIKAN, dengan mempertaruhkan iman?