Benarkah dalam Sholat Maghrib, Isya, dan Shubuh, Bacaannya dikeraskan?


Seseorang bertanya tentang dalil Al-Qur’an dan hadits yang menjadi dasar dikeraskannya bacaan imam ketika melaksanakan sholat Maghrib, Isya, dan Shubuh. Dikeraskannya bacaan imam, terbatas pada bacaan Al-Fatihah dan Surah pilihan setelahnya, di rakaat pertama dan kedua.

Pertanyaan serupa ternyata sudah banyak disampaikan termasuk dalam “jagat” internet. Dan untuk menjawab pertanyaan sahabat tadi, saya nukilkan jawaban dari pengasuh media dakwah online islamqa.com. Tiada lain agar jawabannya lebih lengkap disertai dalil shahih, yang in syaa Allah akan menjadi pegangan kita semua.

Pedoman pertama, adanya keharusan kita sebagai muslim untuk mengikuti seluruh syariat yang diemban Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau uswah (teladan) terbaik. Sebagaimana firman Allah Taala yang berbunyi;

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” ( QS. Al-Ahzab:21)

Nabi Muhammad shallalalhu alaihi wa sallam pernah bersabda,

صلوا كما رأيتموني أصلي

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.

Beberapa Dalil dikeraskannya bacaan imam dalam sholat Maghrib, Isya, dan Shubuh

1. Riwayat Imam Bukhari ( No.735 ) dan Muslim (No.463), dari Jabir bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata :

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم قرأ في المَغْرِب بِالطّورِ

Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membaca surat Ath-Thur dalam shalat Maghrib.”


2. Riwayat Imam Bukhari (No.733) dan riwayat Muslim (No.464), dari Bara radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata;

سمعتُ النبي صلى الله عليه وسلم يقرأ " والتينِ وَالزيتُون " في العشاء ، وما سمعت أحداً أحسنَ صوتاً منه

Aku mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam membaca ‘Wattiini wazzaitun’ (surat At-Tin) dalam shalat Isya dan aku belum pernah mendengar seorang pun yang bersuara lebih bagus darinya.”

3. Riwayat Bukhari (No.739) dan Muslim (No.449) dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang hadirnya jin dan mendengarkan Al-Quran dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dalamhadits tersebut terdapat riwayat,

وهو يُصَلَي بأصحابه صلاة الفجر ، فلما سَمعُوا القرآنَ استَمَعُوا لهُ

Beliau shalat Fajar bersama para shahabatnya. Ketika mereka mendengarkan bacaan Al-Quran, maka mereka menyimaknya.”

Beberapa dalil dipelankannya bacaan Imam ketika shalat Zuhur dan Ashar

1. Riwayat Imam Bukhari (No.713) dari Khabab radhiyallahu ‘anhu.

Seseorang bertanya kepadanya, “Apakah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membaca dalam shalat Zuhur dan Ashar?” Beliau berkata, “Ya.” Kami tanya, “Bagaimana kalian mengetahuinya?” Beliau berkata, “Dengan gerakan jenggotnya.


2. Riwayat Imam Bukhari (No.738) dan Muslim (No.396), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

فِي كُلِّ صَلاَةٍ يقْرَأُ ، فَمَا أَسْمَعَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْمَعْنَاكُمْ ، وَمَا أَخْفَى عَنَّا أَخْفَيْنَا عَنْكُمْ

Dalam setiap shalat beliau membaca, apa yang beliau perdengarkan kepada kami (baca keras) maka kami perdengarkan kepada kalian (baca keras juga), apa yang beliau sembunyikan kepada kami (baca pelan) maka kami sembunyikan juga kepada kalian (baca pelan juga).

3. Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata,

“Disunahkan mengeraskan bacaan pada dua rakaat shalat Fajar, Maghrib dan Isya serta shalat Jumat. Membaca pelan pada shalat Zuhur dan Ashar dan rakaat ketiga shalat Maghrib serta rakaat ketiga dan keempat shalat Isya. Semua itu merupakan ijma’ kaum muslimin disertai dengan hadits-hadits shahih dan tampak dalam masalah itu.” (Al-Majmu Syarah Muhazab, 3/389)

4. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

“Membaca pelan dalam shalat Zuhur dan Ashar, sedangkan dalam dua rakaat pertama shalat Maghrib dan Isya dibaca keras serta pada dua rakaat shalat Shubuh. Dalil dalam masalah ini adalah adalah perbuatan Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang telah valid diriwatkan oleh kaum kholaf (generasi belakangan) dari kaum salaf (generasi terdahulu). Jika seseorang mengeraskan bacaan di tempat yang dibaca pelan atau membaca pelan di tempat yang dibaca keras, maka dia telah meninggalkan sunah, adapun shalatnya tetap sah.” (Al-Mughni, 2/270)

Kesimpulan

Demikian beberapa penjelasan dalil mengenai masalah dikeraskan dan dipelankannya bacaan shalat. Berdasar penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa :

1. Bacaan Al-Fatihah dan bacaan ayat al-Qur’an setelahnya, di rakaat pertama dan kedua sholat Maghrib, Isya, Shubuh, dan shalat Jumat, DIKERASKAN (Zahar)

2. Bacaan Al-Fatihah dan bacaan ayat Al-Qur’an setelahnya, dirakaat pertama dan kedua sholat Zuhur dan Ashar, DIPELANKAN.

3. Seluruh bacaan, kecuali TAKBIR imam, di rakaat berikutnya, DIBACA PELAN.


Wallahu a’lam.


Referensi :

https://islamqa.info/id/answers/224152/dalil-mengeraskan-dan-melirihkan-bacaan-dalam-shalat