Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jika Sudah Tiada, Kita Dikenang Sebagai Apa?

Satu persatu sahabat seperjuangan dipanggil menghadap Allah SWT. Tentu tanpa pernah bisa melihat dan merasakan kembalinya kejayaan Islam yang mereka perjuangkan siang-malam. 


Terus terang, menyaksikan kematian, termasuk kematian orang-orang terdekat, mungkin terlalu biasa bagi kita. Padahal, setiap kematian adalah nasihat amat berharga bagi kita. Bahkan, seandainya tidak ada nasihat apapun di dunia ini, sabda Baginda Nabi saw.:

كفى بالموت واعظاً

"Cukuplah kematian sebagai nasihat." (HR al-Baihaqi).

Melalui hadis ini Baginda Nabi saw. seolah ingin menegaskan, "Nasihat apapun tak lebih berharga daripada nasihat kematian".

Bisa juga bermakna, "Tak perlu banyak nasihat. Cukuplah kematian sebagai nasihat."

Alhasil, jika kematian--sebagai nasihat terbaik -saja tidak cukup menggetarkan hati kita dan menggerakkan jiwa untuk semakin taat kepada Allah SWT, semakin giat memperbanyak amal shalih, semakin meningkatkan amal dakwah demi bekal menghadap kepada-Nya, nasihat apalagi yang kita butuhkan?

Ya, diakui atau tidak, kematian adalah nasihat yang terus berulang, namun terus juga berulang kita lupakan. Seolah-oleh kematian itu hanya menyasar orang lain, bukan kita. Padahal Allah SWT tegas menyatakan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian)." (QS Ali Imran [3]: 185).

Yang juga penting untuk direnungkan, jika kita mati, akan dikenang sebagai apakah oleh orang-orang yang kita tinggalkan?

Apakah kita akan dikenang sebagai ahli ibadah atau orang yang malas beribadah?

Apakah sebagai orang yang tak pernah ketinggalan shalat lima waktu di masjid atau orang yang selalu meninggalkan shalat fardhu di masjid?

Apakah sebagai orang yang rajin bersedekah atau orang yang pelit berinfak?

Apakah seorang yang rajin dan sungguh-sungguh mencari ilmu ataukah yang mencukupkan diri dengan ilmu alakadarnya?

Apakah sebagai pengemban dakwah yang gigih atau yang malas-malasan?

Apakah sebagai orang yang amanah atau orang yang suka berkhianat?

Apakah sebagai orang yang rajin membaca al-Quran setiap hari atau tidak pernah kelihatan membaca al-Quran?

Apakah sebagai orang yang rajin shaum sunnah atau tak pernah melakukannya?

Apakah sebagai suami/istri yang baik dan lembut atau yang buruk dan kasar?

Apakah sebagai ayah/ibu yang bertanggung jawab atau yang sering lepas tanggung jawab?

Apakah sebagai suami/istri yang suka menyayangi pasangannya atau yang suka menyakiti pasangannya?

Terus terang, saya sangat khawatir saat wafat nanti, saya dikenang oleh orang-orang sebagai orang yang memilki sifat-sifat buruk meski tentu saya percaya orang-orang itu tidak akan mengungkapkannya atau menjadikannya sebagai bahan gunjingan.

Tentu kita berharap dikenang sebagai orang yang memiliki sifat-sifat yg baik oleh orang-orang, setulus hati, tanpa kepura-puraan atau terpaksa.

Berbahagialah sahabat-sahabat kita seperti Ustadz Nuruddin, Ustadz Bur, Ustadz Hari Moekti serta almarhum dan almarhumah para syabab/syabah yang lain yang sudah mendahului kita. Mereka terbukti tetap istiqamah sampai akhir hayat di jalan dakwah yang penuh tantangan ini. Mereka pun terbukti dikenang oleh orang-orang terdekatnya sebagai orang-orang yang baik, yang selalu semangat dan gigih dalam dakwah. Semoga di mata Allah SWT, mereka jauh lebih baik daripada yang kita lihat dan saksikan.

Semoga kita pun bisa istiqamah di jalan dakwah seperti mereka. Semoga saat wafat, kita pun dikenang sebagai orang baik, bukan hanya di mata manusia, tetapi yang lebih penting adalah di mata Allah 'Azza wa Jalla.

Semoga saat wafat nanti, entah esok atau lusa, kita selalu dalam ridha-Nya. Amiin.

Sumber
Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, dan Seorang Pembelajar

Posting Komentar untuk "Jika Sudah Tiada, Kita Dikenang Sebagai Apa?"