2 Waktu Shalat Berjamaah yang Paling Berat dilakukan Kaum Munafik

Shalat fardu yang dilakukan secara berjamaah di mesjid, besar sekali keutamaannya. Ditinjau dari segi derajat keutamaan, 27 kali lipat mengungguli shalat munfarid (sendirian).


Dari segi hukum shalat fardu berjamaah, para ulama berbeda pendapat. Ada yang menghukumi wajib, fardu kifayah, dan juga sunnah muakkadah. Terlepas dari perbedaan tersebut, yang paling utama menjadi perhatian adalah keutamaan shalat fardu berjamaah itu.

Di antara lima waktu shalat fardu, ada dua waktu yang sangat berat dilakukan oleh orang munafik, yakni Isya dan Subuh.

Nabi yang mulia bersabda:


قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن هاتين الصلاتين أثقل الصلوات على المنافقين يعني العشاء والفجر ولو يعلمون ما فيهما من الأجر لأتوهما ولو حبوا. (رواه البخارى و مسلم).

Nabi saw. bersabda: "Sungguh ada dua shalat fardhu yang paling berat dilakukan oleh kaum munafik, yakni shalat isya dan subuh (secara berjamaah di masjid). Padahal andai mereka tahu betapa besar pahalanya, mereka pasti akan mendatangi kedua shalat tersebut (di masjid) meski harus merangkak." (HR al-Bukhari dan Muslim).

و قال ابن عمر: كنا إذا تخلف منا إنسان في صلاة العشاء والصبح في الجماعة أسأنا به الظن أن يكون قد نافق.
Ibnu Umar radhiyallLahu berkata: "Jika ada salah seorang dari kami melewatkan shalat isya dan subuh berjamaah (di masjid), kami beranggapan bahwa ia telah menjadi munafik." (Adz-Dzahabi, Al-Kaba'ir, 1/10).


Hikayat tentang shalat berjamaah

Abdullah bin Umar al-Qawariri ra. berkata: 

Aku tidak pernah sekalipun ketinggalan shalat berjamaah di masjid. Akan tetapi, suatu malam aku kedatangan tamu. Aku pun sibuk melayani tamu hingga shalat isya berjamaah di masjid terlewatkan. Aku pun buru-buru keluar untuk mencari barangkali masih bisa menjumpai shalat isya berjamaah di masjid-masjid di Kota Bashrah malam itu. 

Namun, setelah aku berkeliling ke beberapa masjid, semua orang ternyata sudah selesai menunaikan shalat isya berjamaah. Aku pun kembali ke rumah seraya mengingat kembali sebuah Hadis Nabi saw. yang menyatakan bahwa shalat fardhu berjamaah di masjid mengungguli shalat sendirian (di rumah) 27 derajat. Karena itu aku pun segera menunaikan shalat isya saat itu sendirian sebanyak 27 kali (berharap dapat menyamai pahala shalat berjamaah 27 derajat) 

Aku kemudian tidur. Di dalam tidur aku bermimpi seolah-olah aku sedang ada di tengah-tengah suatu kaum. Mereka masing-masing menunggang kuda. Aku pun menunggang kuda. Kami pun saling berkejaran. Aku berusaha memacu kudaku untuk mengejar mereka, tetapi tidak berhasil mengejar mereka. 

Salah seorang dari mereka kemudian berkata kepadaku. "Kamu tak perlu membuat payah kudamu. Sebab kamu tidak akan pernah bisa mengejar kami." 

Aku bertanya, "Mengapa?" 

Dia menjawab, "Sebab kami shalat isya berjamaah (di masjid), sementara kamu shalat sendirian (di rumah)." 

Tiba-tiba aku terjaga dari tidur dalam keadaan sedih dan berduka. Karena itu aku memohon pertolongan dan taufik kepada Allah (agar tidak lagi ketinggalan shalat berjamaah di masjid) karena Allah Mahapemurah lagi Mahamulia. (Dikisahkan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Kitab Al-Kaba'ir, 1/1

Tambahan 

Jika berkenan, silakan sebarkan tulisan  ini kepada orang lain. Semoga menjadi sebab kebaikan bagi Anda dan saudara/sahabat Anda. BarakalLahu fikum. []