Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Sikap Manusia Terhadap Kritik

Ada kritik, ada pujian. Ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik, memungkinkan dirinya mendapat pujian dari orang lain. Namun tak menutup kemungkinan juga, ia akan mendapatkan kritik. Keduanya adalah bumbu dalam kehidupan.

Umumnya kita akan bangga dengan pujian, namun sebaliknya akan marah ketika mendapatkan kritik dari orang lain.

Apa itu kritik? Menurut Wikipedia, Kritik adalah proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.

Sedangkan menurut KBBI, kritik/kri·tik/ n adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya;
sikap manusia terhadap kritik
illustrasi bincangsyariah.com

Dalam menyikapi kritik, setidaknya ada 3 sikap yang umum terjadi pada manusia, yaitu :

1. Menganggap kritik sebagai saran perbaikan
2. Menganggap kritik sebagai ucapan penghinaan
3. Menganggap kritik hal biasa saja 

Yuk kita bahas satu persatu!

Menganggap kritik sebagai saran perbaikan

Golongan yang pertama ini, setiap ia melakukan suatu perbuatan yang diyakini benar dan bermanfaat, yang ia kerjakan sepenuh hati menurut perencanaan yang matang, namun ketika dilaksanakan atau setelahnya, ia mendapatkan kritik dari orang lain, ia menganggap kritik itu sebagai saran perbaikan, tak lebih.

Baginya, saran untuk perbaikan sangat ia perlukan untuk meningkatkan kualitas pekerjaannya. Ia membuka seluas-luasnya ruang kritik dan saran, bagaimanapun cara kritik itu disampaikan. Orientasi hidupnya adalah perbaikan dan perbaikan, tak ada sesuatu yang berharga baginya selain kualitas hidupnya semakin meningkat.

Orang dengan tipe ini, yang menganggap kritik sebagai saran perbaikan, memiliki kepribadian yang matang.

Menganggap kritik sebagai ucapan penghinaan

Golongan kedua ini menganggap setiap kritik sekecil apapun terhadap perbuatannya, adalah penghinaan dan merendahkan. Baginya, setiap perbuatannya sempurna tak ada kesalahan.

Orang yang seperti ini tak memiliki orientasi hidup ke arah perbaikan, melainkan pujian. Baginya, pujian adalah kenikmatan dan kritikan adalah kesengsaraan batin yang amat sangat. Ia menutup rapat pintu kritik.

Menganggap kritik sebagai hal biasa

Orang yang seperti ini, yang menganggap bahwa pujian maupun kritik hanya hal biasa saja, memiliki keajegan dalam bersikap. Baginya, sepanjang yang dilakukannya adalah berdasar kebenaran, ia tak memperdulikan kritik maupun pujian.

Memang, bagi seorang muslim, ketika suatu perbuatan dilakukan secara ikhlas (hanya untuk dan karena Allah), serta ‘ittiba (mencontoh tauladan Rasulullah SAW), tak peduli adanya pujian maupun kritikan dari manusia lain. Satu-satunya tujuannya adalah keridhoan Allah atas dirinya.

Maka, dari semua itu, akan menjadi pelajaran bagi kita bagaimana sikap terbaik dalam menghadapi kritikan dari orang lain.

Menganggap kritikan sebagai masukan, adalah langkah yang baik bagi perubahan ke arah yang lebih baik. Menganggap kritikan hanya hal biasa saja, adalah langkah terbaik untuk menuju keikhlasan dalam beramal. Sedangkan menganggap kritikan sebagai penghinaan, ini langkah yang sangat salah, dan menutup pintu untuk kebaikan. Kita kembalikan kepada niatan awal sebuah perbuatan. Bahwa apapun yang kita lakukan adalah semata-mata hanya karena Allah, untuk Allah, dan untuk beribadah kepada-Nya

Jadi, termasuk yang mana Anda?  Mudah-mudahan termasuk yang ketiga.