Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tanggapan Ahli Balaghoh Terhadap Foto Bareng Baim Wong Bersama Ustadz Felix Siauw

Banyak media yang mengangkat berita tentang foto barengnya artis sekaligus youtuber tenar, Baim Wong dengan dua ustadz yang tak kalah tenarnya, yaitu Ustadz Felix Siauw dan Ustadz Fatih Karim. Seperti biasa, tergantung visi medianya, isi beritanya terbagi dua kubu, yang memuji dan yang memaki. Begitu juga reaksi dari netizen, terbagi dua pula, yang memuji juga ada yang memaki. Bahkan ada yang meng-unfollow akun Baim Wong.

Di kalangan "ahli agama" juga tak sepi dari kubu yang memaki. Banyak di antara mereka yang menyesalkan. kenapa Baim Wong harus ngaji kepada dua ustadz tadi, bukan kepada ustadz dari kalangan mereka.

Mengenai hal ini, ada baiknya kita membaca secara seksama tanggapan dari seorang ahli bahasa Arab, ahli balaghoh, sekaligus pakar ruqyah, Ustadz Irfan Abu Naveed. Dibaca dengan hati jernih, untuk pemahaman kita yang oftimal sehingga kita lebih bijak dalam bersikap.

Sumber : IG Baim Wong

Dakwah mengajak masyarakat luas termasuk selebritas mengkaji Islam itu patut diapresiasi, ia tanggung jawab bersama kaum Muslim, terutama para da'i yang bisa mengakses dunia mereka semisal Akhuna Felix Siauw dan Ust Fatih Karim.

Jangan dicibir hanya karena bukan 'anda' yang tampil di publik mendakwahi mereka berbekal gelar semata (gelar doktor misalnya), dan "perasaan" punya ilmu (padahal sama-sama thullab al-'ilm yang perlu banyak belajar ilmu dan adab, memangnya sudah "merasa" berilmu adalah dalil bolehnya sombong ya?).

Dakwah, mengajak masyarakat pada Islam, pada kajian-kajian Islam itu tanggung jawab bersama kaum Muslim, tidak dilihat ahli agama atau yang baru belajar agama.Terlebih tidak, jika yang "merasa" sebagai ahli agama dan "merasa" punya stempel bicara agama, malah menjadi perpanjangan lisan para pecinta dunia yang terpedaya dengan kekuasaan yang fana.

Ada tidak orang bergelar yang tatkala bicara agama malah sesat menyesatkan, khil4f4h dikatakan "virus", ajaran radikal dan tertolak, wal 'iyadzu billah, model begitu yang seharusnya diam tak boleh bicara agama, wajib belajar lagi ilmu agama kepada ulama yang bersanad ilmunya.

Kalau 'anda' merasa punya ilmu, coba kaji tafsir dan balaghah ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits nabawiyyah yang berbicara tentang tanggung jawab dakwah, memangnya itu semua berbicara tentang kewenangan 'anda' saja? Kalau 'anda' sulit memahami tafsir dan balaghahnya, bisa belajar bersama, in sya Allah saya ajari, majjan[an].

Bukankah Allah berfirman dalam ayat-Nya yang agung:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47]: 7)

Kalimat إن تنصروا الله yang menisbatkan pertolongan pada Allah sebenarnya dalam ilmu balaghah termasuk bentuk majazi, seakan menisbatkan langsung pada Allah ’Azza wa Jalla, ini sudah cukup menunjukkan besarnya kedudukan perbuatan dalam ayat di atas, padahal Allah Maha Kuasa, tidak membutuhkan pertolongan makhluk-Nya sedikit pun, karena konotasi sebenarnya: yakni:

(1) Menolong Din Allah dan jalan-Nya,
(2) Menolong hizbullâh (kelompok pembela Dinullah)
(3) Menolong Rasul-Nya.

Jadi, mari bahu membahu membela Islam, itu tanggung bersama.

Imam al-Marwazi (w. 294 H) dalam al-Sunnah mengetengahkan nasihat Imam al-Awza'i:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ إِلَّا وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى ثَغْرَةٍ مِنْ ثُغَرِ الْإِسْلَامِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَلَّا يُؤْتَى الْإِسْلَامُ مِنْ ثَغْرَتِهِ فَلْيَفْعَلْ

"Tidaklah setiap muslim itu, kecuali ia harus berdiri di depan benteng pertahanan dari ben
teng-benteng pertahanan Islam, maka siapa saja yang mampu agar Islam tidak didatangi (dihancurkan musuh) datang dari arah bentengnya, maka lakukanlah!"

وفقنا الله وإياكم فيما يرضاه ربنا ويحبه