Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pencari Ilmu dan Yang Membiayainya, Siapa Yang Meraih Kemuliaan Besar?

Pencari Ilmu dan Yang Membiayainya, Siapa Yang Meraih Kemuliaan Besar? Sebuah pertanyaan yang bagus juga, mengingat bahwa ada orang yang fokus belajar agama, dan di lain pihak ada orang yang membiayainya. 

Seperti yang dikisahkan Ustadz Arief B. Iskandar, sekaligus sebagai jawaban pertanyaan mana yang beroleh kemuliaan besar antara penuntut ilmu dan yang membiayainya. Selengkapnya bisa Anda baca di bawah ini.
Illustrasi menuntut ilmu dari idasafii.blogspot.com

Ada kisah menarik masa Rasulullah saw. Dikisahkan bahwa ada dua orang bersaudara Yang satu fokus mencari ilmu. Yang satu lagi fokus untuk bekerja. Suatu hari, salah seorang dari mereka datang menemui Rasulullah saw untuk mengadu. Dia merasa keberatan. Pasalnya, dia mnghabiskan waktunya untuk sibuk bekerja mencari rezeki hingga tak sempat mencari ilmu. Sebaliknya, saudaranya hanya fokus untuk belajar; mendengar hadis dan menimba ilmu-ilmu syar’i dari Rasulullah. Padahal semua biaya kebutuhannya harus dia tanggung semuanya.

Mendengar pengaduan itu Rasulullah berkata: 

لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ

Bisa jadi, kamu diberi rezeki oleh Allah justru karena saudaramu itu (Sunan at-Tirmidzi; 4/574, di-shahih-kan oleh Syaikh al-Bani)

Pada waktu itu, Rasulullah tidak mengatakan, "Saudaramu itu lebih baik daripada kamu." Namun, Rasulullah justru mengatakan kebaikan yang ada padanya (lancarnya rezeki) itu datang karena dia menolong saudaranya yang belajar bersama Rasulullah itu. Dalam kata lain, tak perlu merasa menyesal atau dirugikan, baik yang membiayai dan yang dibiayai semuanya punya peran masing-masing.

Syaikh Ali bin Muhammad al-Qari dalam Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih menjelaskan maksud kalimat  لَعَلَّكَ تُرْزَقُ dengan shighat majhul (pasif) maknanya, “Aku berharap (takut), jangan-jangan kamu diberi rizki karena keberkahan saudaramu itu, bukan murni hasil keringatmu, maka jangan kamu ungkit-ungkit hal itu (Juz 8, Hal. 3328).

Dalam hadis lain, Rasulullah juga mengatakan bahwa kaum dhuafa (salah satunya adalah mereka yang totalitas mencari ilmu, bisa masuk dalam kategori ini) adalah salah satu sebab pertolongan Allah dan datangnya rezeki:

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: رَأَى سَعْدٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَ ائِكُمْ؟

Dari Mush’ab bin Sa’ad, beliau berkata bahwa Sa’ad radhiyallahu ‘anhu_memandang dirinya memiliki keutamaan di atas yang lainnya (dari para sahabat). Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukankah kalian ditolong (dimenangkan) dan diberi rezeki melainkan dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian?”(HR. Bukhari, 4/36)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Baari menjelaskan bahwa ditolong dengan sebab doa-doa, shalat-shalat, dan keikhlasan mereka. Sebabnya kaum dhuafa adalah orang yang paling mudah untuk ikhlas, paling khusyuk dalam beribadah dan hati mereka bersih dari keterkaitan dengan urusan dunia (6/89).

Begitu juga dengan para pencari ilmu, khususnya ilmu syar’i, doa-doa, shalat dan keikhlasan mereka adalah syarat mutlak untuk memperoleh ilmu.

Para pencari ilmu itu hari-harinya dipenuhi kesibukan mengkaji dan menghapal al-Quran dan Hadis Nabi saw., membaca kitab-kitab ulama, meneliti, menulis serta menganalisis berbagai hal, termasuk berpikir keras bagaimana caranya meng-counter berbagai syubhat yang merebak dan menjamur di tengah-tengah masyarakat.

Itu semua bukan urusan sederhana, perlu keikhlasan dan tekad kuat untuk menjalaninya, juga harus merelakan manakala dirinya kehilangan bagian dunia.

Begitu beratnya tugas para pencari ilmu, maka wajar kalau orang yang menjadi Kaafil  (orang yang menanggung) biaya hidupnya selama mencari ilmu akan mendapat cipratan keberkahan di dunia. Salah satunya dengan dilancarkan rezekinya. Ditambah pula pahala jariyah yang akan menyusul di akhirat kelak.

Wallahu a’lam.

(Dinukil dan diringkas dari FB Ustadz Adi Maretnas--barakallahu 'ala zuhdihi wa nafa'a fi 'ulumih--dengan sedikit editing.
 
Deni Kurnia
Deni Kurnia Guru, Blogger, dan Seorang Pembelajar