-->

Shalawat Jibril, Amalan Penarik Rizki, yang Menuai Pro dan Kontra

Shalawat Jibril, Amalan Penarik Rizki, yang Menuai Pro dan Kontra - Tertarik membahas sebuah shalawat yang sudah cukup terkenal, yakni shalawat Jibril. Shalawat yang jika diamalkan secara konsisten, dipercaya memudahkan mendapatkan rizki. Awal ketertarikan membahas Shalawat Jibril, adalah adanya sebuah pertanyaan dari rekan kerja, Bu Erma, tentang shalawat ini.


Apa itu shalawat Jibril? 

Sholawat Jibril sebenarnya shalawat yang redaksi atau lafalnya sudah sangat kita kenal bahkan mungkin sering kita baca. Lafal shalawat jibril seperti berikut ini:

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد
"Shollallohu A'la Muhammad"

Manfaat Shalawat Jibril

Dikutip dari Ringtimes Bali PR, untuk mendapatkan keberkahan dan manfaat Sholawat Jibril ini, bisa dibaca sebanyak 1000 (seribu) kali atau 3333 (tiga ribu tiga ratus tiga puluh tiga) kali. Bisa juga dibaca lebih banyak yaitu sejumlah 7.000 (tujuh ribu) kali atau 10.000 (sepuluh ribu) kali tiap hari, atau bisa juga anda baca sebanyak anda mampu.

Namun perlu diperhatikan, dalam mengamalkan Sholawat Jibril ini bukanlah jumlahnya, namun konsistensinya.

Masih menurut portal milik Pikiran Rakyat ini, jika Shalawat Jibril ini diamalkan secara istiqomah maka manfaatnya akan lebih terasa daripada anda baca dalam jumlah banyak namun tidak istiqomah. Sekali lagi ingat, yang penting untuk amalan Sholawat tiap hari adalah istiqomahnya.

Doa Pelengkap Shalawat Jibril

Sekali lagi, Sholawat Jibril dikenal sebagai Sholawat penarik rezeki paling kuat, untuk melariskan dagang atau melancarkan usaha.

Namun jika diamalkan dengan taat acara tertentu dan diimbangi dengan doa pelengkap untuk kerezekian, akan lebih mantap lagi. 

Adapun doanya adalah sebagai berikut :

بسم الله الرحمن الرحيم
الّلهُمَّ اَعْطِنِي ثَوَابَ صَلَّى اللهُ عَلَى محمد أَنْ تَرْزُقَنِي شَيْئًا أَسْتَعِيْنُ بِهِ عَلَى الطّاعَةِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الِعزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَي الْمُرْسَلِيْنَ وَالحمْدُ لله ربِّ العَالميْن
Bismillaahirrohmaanirrohiim Alloohumma A’thinii
"Tsawaaba Shollalloohu ‘Alaa Muhammad An Tarzuqonii Syai-An Asta ‘Iinu Bihi ‘Alath-Thoo ‘Ah Subhaana Robbika Robbil ‘Izzati ‘Ammaa Yashifuun Wasalaamun ‘Alal Mursaliin Walhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin"

Artinya "Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ya Allah datangkanlah padaku pahala Shollalloohu ‘Alaa Muhammad berilah rezeqi padaku, sesuatu yang dapat menolongku untuk ta’at"

Maha suci Tuhanmu, Tuhan yang maha mulia dari apa yang mereka sifatkan dan salam sejahtera untuk para Rasul dan segala puji kepada Allah Tuhan semesta alam.


Bagi yang meyakini khasiat dan manfaat mengamalkan Shalawat Jibril, tentunya keterangan ini menguatkan semangat untuk terus-menerus konsisten mengamalkannya.

Namun, sebagai pembanding, tak ada salahnya kita pun melihat Shalawat Jibril dari sisi yang lainnya.

Pembagian Shalawat yang Sunnah dan Shalawat yang Bid'ah

Shalawat Nabi banyak ragamnya, namun secara umum dibagi menjadi dua nagiam, yaitu:

1. Shalawat Yang Disyari’atkan

Yaitu shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. 

Menurut Syaikh Al Albani rahimahullah dalam kitab Shifat Shalat Nabi, menyebutkan ada tujuh bentuk shalawat dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Ustadz Abdul Hakim bin Amir bin Abdat hafizhahullah di dalam kitab beliau, Sifat Shalawat & Salam, membawakan delapan riwayat tentang sifat shalawat Nabi. 

Di antara bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah :

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ 

(Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik (dalam satu riwayat, wa barik, tanpa Allahumma) ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaKa Hamiidum Majid). 

Ya, Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. 

Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. [HR Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hlm. 165-166, karya Al Albani, Maktabah Al Ma’arif]. 

صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

Shalallahu ‘alaihi wa sallam 

 عَلَيْهِ الصّلاَةُ وَالسَّلاَمُ 

‘alaihish shalaatu was salaam).


2. Shalawat Yang Tidak Disyari’atkan

Yaitu shalawat yang datang dari:

  • Shalawat yang berasal dari Hadits-hadits dha’if (lemah), sangat dha’if, maudhu’ (palsu), atau tidak ada asalnya. 
  • Shalawat yang dibuat-buat (umumnya oleh Ahli Bid’ah), kemudian mereka tetapkan dengan nama shalawat ini atau shalawat itu. Shalawat seperti ini banyak sekali jumlahnya, bahkan sampai ratusan.  
Cara Mengamalkan Shalawat Menurut Sunnah

Cara mengamalkan shalawat yang benar berdasarkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut: 

a. Shalawat yang dibaca adalah shalawat yang disyari’atkan, karena shalawat termasuk dzikir, dan dzikir termasuk ibadah. Bukan shalawat bid’ah, karena seluruh bid’ah adalah kesesatan. 

b. Memperbanyak membaca shalawat di setiap waktu dan tempat, terlebih-lebih pada hari jum’ah, atau pada saat disebut nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lain-lain tempat yang disebutkan di dalam hadits-hadits yang shahih.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا 

Barangsiapa memohonkan shalawat atasku sekali, Allah bershalawat atasnya sepuluh kali. [HR Muslim, no. 408, dari Abu Hurairah]. 

c. Tidak menentukan jumlah, waktu, tempat, atau cara, yang tidak ditentukan oleh syari’at. 

Seperti menentukan waktu sebelum beradzan, saat khathib Jum’at duduk antara dua khutbah, dan lain-lain. 

d. Dilakukan sendiri-sendiri, tidak secara berjama’ah. Karena membaca shalawat termasuk dzikir dan termasuk ibadah, sehingga harus mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

e. Dengan suara sirr (pelan), tidak keras. Karena membaca shalawat termasuk dzikir. 

Sedangkan di antara adab berdzikir, yaitu dengan suara pelan, kecuali ada dalil yang menunjukkan (harus) diucapkan dengan keras. 

Allah berfirman,

 وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ 

Dan dzikirlah (ingatlah, sebutlah nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [Al A’raf : 205]. 

Nah, kita sudah membaca ketentuan-ketentuan dalam membaca shalawat. Bagaimana dengan Shalawat Jibril yang dipercaya menjadi asbab ikhtiar pelancar rizki, apakah berkesesuaian dengan ketentuan tersebut?

Maka, itu tergantung keyakinan masing-masing, apakah mau diamalkan atau justru ditinggalkan.

Wallahu a'lam.


Referensi: 
  • https://ringtimesbali.pikiran-rakyat.com/
  • https://almanhaj.or.id/3275-bagaimana-cara-shalawat-yang-sesuai-sunnah-dan-bolehkah-shalawat-diiringi-dengan-rebana.html

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel