Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengulik Makna Puisi "Tidak Ada Tempat Bagi yang Tak Mampu Menghargai " (Alfitria Hasanah)

Kembali membahas sastra, kali ini kita akan  Mengulik Makna Puisi "Tidak Ada Tempat Bagi yang Tak Mampu Menghargai " karya Alfitria Hasanah. Sebuah puisi yang berbicara tentang rasa, sebuah keteguhan sikap terhadap seseorang yang dianggap tak menghargai, dan menonjolkan ego. 

Puisi ini seolah menegasikan tentang wanita yang dianggap terlalu mengedepankan rasa,  dibanding logika. Tergambar, bagaimana nuansa ketegaran sikap dalam puisi kreasi seorang gadis pembelajar ini. 

Baik kawan, kita baca selengkapnya Puisi "Tidak Ada Tempat Bagi yang Tak Mampu Menghargai " karya Alfitria Hasanah.

Tidak Ada Tempat Bagi yang Tak Mampu Menghargai

Tidak, Tuan
Tidak ada tempat untuk seseorang
yang tak mampu menghargai.
Tidak ada tempat untuk seseorang
yang mengedepankan dirinya sendiri.

Kutetapkan untuk kembali
Mengosongkan ruang.
Tak menunggumu kembali,
Tak menunggunya datang.

Membiarkan segalanya
berjalan apa adanya,
Untuk apa bertahan
Pada tepi pengabaian?

Kebebasan untuk segala keresahan.
Tak lagi memerlukan alasan,
Untuk tetap berada
pada pijakan yang sama.
Aku tetap disini,
Akan selalu disini.
Hingga berbagai mimpi
Kuwujudkan tanpa arti.

Ulasan Sederhana Puisi Tidak Ada Tempat Bagi yang Tak Mampu Menghargai

Di bait pertama, sebenarnya maksud puisi ini sudah tergambar jelas. Penulis menggambarkan dirinya menyukai sesosok insan, namun justru kecewa. Ia merasa sebagai seseorang yang merasa tidak dihargai sesosok insan yang disukainya itu,  lebih mementingkan diri tanpa empati kepada dirinya, demikian yang ia rasakan.  

Tidak, Tuan
Tidak ada tempat untuk seseorang 
yang tak mampu menghargai.
Tidak ada tempat untuk seseorang 
yang mengedepankan dirinya sendiri

Sehingga, dengan tegas, dirinya menyatakan ruang hatinya dikosongkan kembali dari tautan kepada sosok itu. Tak mengharap kehadirannya, tak mau menunggu kedatangannya.

Kutetapkan untuk kembali
Mengosongkan ruang.
Tak menunggumu kembali,
Tak menunggunya datang.

Ketegasan pada diri dan sosok yang asalnya dicintai, makin dikokohkan. Ia sudah pasrah, kembali kepada kesadaran, bahwa segalanya mesti berjalan sebagaimana awalnya. 

Membiarkan segalanya 
berjalan apa adanya,

Sambil mengafirmasi kepada dirinya, dengan mengucap:

Untuk apa bertahan 
Pada tepi pengabaian?

Untuk selanjutnya penulis menyatakan , bahwa dengan keputusannya ini, ia merasa memperoleh kembali kebebasan, bebas dari keresahan hubungan. 

Kebebasan untuk segala keresahan.
Tak lagi memerlukan alasan,
Untuk tetap berada 
pada pijakan yang sama.

Di akhir puisi, penulis memantapkan sikap dirinya untuk bertahan dengan keputusannya. 

Aku tetap disini,
Akan selalu disini.
Hingga berbagai mimpi 
Kuwujudkan tanpa arti.

Ah, ini sebuah hal yang menjadi sebuah pelajaran, bahwa kita harus berani menentukan sikap,  dan siap dengan kondisi yang akan terjadi atas pilihan yang diambil. 

Terima kasih kepada Alfitria Hasanah.... 

Catatan:
Jika Anda memiliki puisi dan ingin direview oleh abufadli.com, silakan kirim naskahnya ke fadlirobi@gmail.

Deni Abu Fadli
Deni Abu Fadli Seorang pendidik di SMPN 1 Mande. IG dan YT: @kangdeni76