5 Prinsip Membangun Keluarga SAMARA

Menghadiri sebuah pernikahan, umumnya para tamu mengucapkan kalimat, "Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah", kepada kedua mempelai. Istilah sakinah, mawaddah, warrahmah, sering disingkat menjadi SAMARA.
 palembang.tribunnews.com

Lalu, apa sebenarnya tujuan pernikahan itu? Ayat berikut menggambarkannya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُون  

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar-Ruum : 21)

Ayat tersebut menegaskan bahwa pernikahan itu disyariatkan agar di tengah-tengah kehidupan kita tercipta sebuah ketenangan, ketentraman, rasa kasih, dan sayang.

Setidaknya ada lima prinsip yang harus dilakukan untuk mewujudkan rasa tentram, kasih, dan sayang dalam rumah tangga.

1. Sikap Santun dan Bijak

Merawat cinta kasih dalam keluarga bagaikan merawat tanaman. Maka, pernikahan dan cinta kasih harus juga dirawat agar tumbuh subur dan indah, di antaranya dengan mu'aasyarah bil ma'ruuf atau bergaul dengan baik, yaitu dengan sikap santun dan bijak.

Rasulullah SAW menyatakan bahwa, " Sebaik-baik orang di antara kamu adalah orang yang paling baik terhadap istrinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik terhadap istriku." (HR Thabrani dan Tirmidzi)

2. Saling mengingatkan dalam kebaikan

Di antara bentuk ketakwaan suami-istri dalam mempererat dan mengokohkan rumah tangga adalah dengan saling menasihati untuk menjalankan sunnah Nabi. Lihat dan renungkanlah betapa indah dan harmonisnya rumah tangga yang dibangun di atas bimbingan Al-Qur'an dan as-Sunnah, serta metode para sahabat yang telah digambarkan oleh Nabi SAW dalam haditsnya,

" Allah merahmati seorang suami yang bangun pada malam hari untuk melaksanakan shalat malam, lalu dia juga membangunkan istrinya hingga shalat. Jika istrinya enggan untuk bangun, dia percikan air ke arah wajahnya. Dan Allah merahmati seorang istri yang bangun pada malam hari untuk melaksanakan shalat malam, lalu dia membangunkan suaminya hingga shalat. Jika suaminya enggan untuk bangun, dia percikan air ke arah wajahnya." ( HR An-Nasa'i, Ahmad, dan Ibnu Majah)

3. Mengutamakan kewajiban daripada menuntut hak

Dalam membangun rumah tangga, suami dan istri memiliki hak dan kewajiban yang saling sinergi satu sama lain. Untuk menghadirkan ketentraman, hendaknya setiap individu lebih mengedepankan kewajiban daripada hak.

Hal itu akan menumbuhkan sikap saling pengertian dan rasa tanggung jawab. Sebaliknya, tuntutan-tuntutan yang muncul dalam kehidupan rumah tangga dapat menyulut api perpecahan di antara pasangan suami istri.

4. Saling menutupi kekurangan pasangannya

Setiap suami pasti memiliki kekurangan, begitu juga dengan istri. Kekurangan-kekurangan tersebut sangat mungkin baru diketahui oleh pasangan masing-masing setelah menikah. Dengan saling menutupi kekurangan diri masing-masing, harmonisasi dalam rumah tangga akan terjaga.

Prinsip saling menutupi aib ini didasari oleh Firman Allah SWT dalam Surah Al-baqarah ayat 187:

........هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ.............
....mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka....

Fungsi pakaian adalah menutupi aurat sehingga dapat dipahami bahwa suami isti hendaknya saling menutupi kekurangan satu sama lain.

5. Saling Tolong-menolong

Suami istri saling menolong dalam segala hal, yang akan mengarahkan kepada terwujudnya ketentraman dan kasih sayang di antara keduanya, dalam bingkai ketaatan kepada Allah SWT.

Itulah kunci-kunci pasangan SAMARA dalam mengelola rumah tangga. Suami istri akan berbagi peran dan tanggung jawab dalam menjalani rumah tangga. Sungguh indah gambaran pasangan suami istri yang seperti ini. Suaminya penuh rasa tanggung jawab dan istrinya mampu menjaga kehormatan diri dan pandai menempatkan diri.

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalani rumah tangga masing-masing dengan prinsip-prinsip di atas. Aamiin. (Fahrur Mu'is)