-->

Memahami Hadits Likulli Dain Dawaun dan Tiga Larangan dalam Mengobati Penyakit

Gambar dari klikdokter.com

Memahami Lafal Hadits Likulli Dain Dawa'un
- Bahwa setiap Penyakit Ada Obatnya. Yang pertama harus kita perhatikan adalah bahwa segala ucapan Nabi Muhammad Shalalalu 'alaihi Wasallam, pasti benar adanya, karena ucapannya tidak berdasar nafsu, namun atas tuntunan wahyu. Begitu pun dalam masalah penyakit. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ

Semua penyakit ada obatnya. Jika cocok antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah.” [HR. Muslim]

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً

Tidaklah Allah Ta’ala menurukan suatu penyakit, kecuali Allah Ta’ala juga menurunkan obatnya.” [HR. Bukhari]

Artinya, bahwa setiap penyakit yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, pasti ada obatnya. Kalau ada perkataan, " Covid belum ada obatnya!", belum ada obatnya, tapi pasti ada.

Kewajiban kita adalah berikhtiar dalam mencari obatnya, dengan usaha maksimal. Dan dalam usaha mengobati penyakit yang diderita, kita harus memperhatikan rambu-rambu yang sesuai syariat, agar tidak tergelincir ke dalam perilaku syirik.

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan dalam Ikhtiar Mengobati Penyakit

Pertama, obat dan dokter hanya sarana kesembuhan, sedangkan yang benar-benar menyembuhkan adalah Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman saat mengisahkan Nabi Ibrahim 'alaihissalam:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

 " Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku." (TQS Asy-Syu'ara: 80)

 Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَآدَّ لِفَضْلِهِۦ ۚ يُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ  

" Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS Yunus: 107)

وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

" Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu." (TQS Al-An'am: 17)

Kedua, ikhtiar (berusaha) dalam mencari obat suatu penyakit tidak boleh dilakukan dengan cara-cara haram 

Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wasallam bersabda:

" Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah, tapi jangan berobat dengan (obat) yang haram." (Shahih: HR Ad-Daulabi no. 1315)

" Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan kesembuhan (dari suatu penyakit) kalian pada apa-apa yang haram." (Hasan Lighairihi: HR Abu Ya'la no. 6930)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

" Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan penyakit kalian pada apa-apa yang diharamkan atas kalian." (Shahih: HR Al-Bukhari)


Ketigaikhtiar (berusaha) dalam mencari obat suatu penyakit tidak boleh dilakukan dengan kesyirikan.

Tidak boleh juga berobat dengan hal-hal yang syirik. Misalnya pengobatan alternatif dengan cara mendatangi dukun, tukang sihir, paranormal, orang pintar, menggunakan jin, pengobatan jarak jauh, atau yang sejenisnya yang tidak sesuai dengan syariat. Jika ini dilakukan, dapat mengakibatkan pelakunya jatuh dalam syirik dan dosa yang paling besar.

Pengobatan dengan mendatangi dukun, akan mengakibatkan:

  • Orang yang datang ke dukun atau orang pintar tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.

Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً


Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (Shahih: HR.Muslim no. 2230, dari Shofiyah, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

  • Orang yang mendatangi dukun dan membenarkan perkataannya, maka ia telah kufur kepada Al-Qur'an

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (Shahih: HR. Ahmad no. 9532. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Jika seseorang terkena sihir, guna-guna, santet, kesurupan jin, dan musibah lainnya selain penyakit menahun yang tidak kunjung sembuh, maka tidak boleh sekali-kali bagi muslim dan muslimah untuk mendatangi dukun, tukang sihir, atau paranormal karena datang kepada mereka termasuk dosa besar.

Tidak boleh pula bertanya kepada mereka tentang penyakit dan hal-hal gaib. Karena, tidak ada yang tahu perkara yang ghaib melainkan hanya Allah. Rasulullah pun tidak tahu perkara yang ghaib.

Allah Ta'ala berfirman:



قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّى مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلْأَعْمَىٰ وَٱلْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

"Katakanlah (Muhammad): Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (TQS Al-An'am: 50)


قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ لَٱسْتَكْثَرْتُ مِنَ ٱلْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِىَ ٱلسُّوٓءُ ۚ إِنْ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (TQS Al-A'raf: 188)

Allah Ta'ala juga berfirman:


قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلْغَيْبَ إِلَّا ٱللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.(TQS An-Naml: 65)

Demikianlah pembahasan singkat mengenai hadits "likulli dain dawaun" dan tiga larangan dalam ikhtiar mengobati penyakit. Semoga menjadi kewaspadaan dan kehati-hatian agar tidak terjerembab ke lembah dosa terbesar, yakni syirik.

Wallahu a'lam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel