Shalih dan Mushlih, Dua Karakter yang Harus Ada di Diri Pemuda Penggerak Umat


Para pemuda muslim harus merombak mindset, bila berislam itu cukup menjadi pribadi yang shaleh. Ternyata sekedar shalih tak cukup dan tak bisa menyelamatkan diri mereka, apalagi menyelamatkan umat ini dari kemerosotan peradaban. Kesalehan pribadi bukanlah penghalang bala’ wal waba’ (bencana dan tersebarnya keburukkan). Allah SWT mengingatkan umat ini:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (١٦٥)

"Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik"
. (TQS Al-A’raf: 165)

Muslim yang tak mau menggeser dirinya dari zona nyaman “keshalehan pribadi” menuju perjuangan, bisa karena dua hal; tidak faham hakikat ajaran Islam atau termakan opini yang dikembangkan Barat bila agama itu urusan privat saja. Dua hal ini yang membuat banyak anak muda Muslim belum mau beranjak menaikkan diri menuju pribadi yang melakukan taghyir (perubahan) pada umat.

Terlihat pada tempat-tempat kajian penuh sesak oleh anak muda saat membahas tema akhlak, ibadah, apalagi jodoh dan pernikahan. Namun ketika sudah membahas dakwah, perjuangan, problematika umat, hanya segelintir anak muda yang bertahan dengan tema ini.

Tak Sekedar Shalih, Tapi Harus Mushlih


Seharusnya dalam diri para pemuda muslim melekat dua karakter; shalih dan mushlih. Shalih adalah hamba Allah yang menegakkan hak Allah Ta’ala dan hak pribadinya dengan menunaikan amalan fardhu dan meninggalkan yang haram, juga menunaikan hak orang lain seperti menunaikan amanah dan sebagainya.

Orang-orang yang shalih ini senantiasa mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (TQS An-Nahl: 97)

[839] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

Sedangkan mushlih adalah orang yang melakukan perbaikan pada masyarakat, mengarahkan dan menunjuki mereka dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Hari ini, para pemuda dengan jiwa mushlih amat dibutuhkan umat. Mereka ibarat mercusuar yang memberikan penerangan pada kapal-kapal yang berlayar agar tak hancur menghantam karang.

Pemuda dengan ruh mushlih ini bukan hanya memikirkan kebaikan untuk diri mereka, tapi juga berusaha menyelamatkan umat. Dalam doa mereka bukan hanya terucap untuk dunia dan akhirat pribadi, tapi juga keselamatan untuk Nabi Muhammad SAW dan umatnya.

Merekalah yang menggerakkan umat ketika diam saat terjadi pembusukkan. Mereka yang membangunkan dan terus berusaha membuat umat terjaga untuk terus bangkit. Merekalah yang membuat umat dijauhkan dari bencana yang bisa ditimpakan oleh Allah SWT. Firman-Nya:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (١١٧)

"Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan".( TQS Huud: 117)

Sedangkan orang-orang yang sibuk dengan amal shalih pribadi mereka, tak kunjung beranjak menggerakkan umat menuju kebaikan, sebenarnya tengah terlena dan melenakan. Mereka merasa itu sudah cukup, padahal sikap itu membuat umat terus berada dalam kubangan keterpurukkan. Keberadaan mereka juga menyenangkan kaum imperialis, karena tak pernah mengusik rencana-rencana jahat mereka dalam menjajah umat.

Ketahuilah, yang dibenci dan dikhawatirkan kaum musyrik Quraisy bukanlah kesalehan Baginda Nabi Muhammad SAW. Semua penduduk Mekah telah mengenal bahwa Muhammad bin Abdullah adalah lelaki yang baik bergelar Al-Amin.Tapi yang ditakutkan dan dibenci kaum musyrikin adalah ketika Rasulullah SAW berusaha melakukan Taghyir, perubahan total masyarakat jahiliyyah menuju kehidupan Islam.

Andai beliau hanya menjadi pribadi yang shalih, maka taka da kekhawatiran dan kebencian mereka terhadap sosok Rasulullah SAW.

Credit to:
1. Teks Al-Qur’an dan terjemah, berasal dari aplikasi Qur’an Word untuk Microsoft Word
2. Buku: Bara Dakwah Para Pemuda, M. Iwan Januar, terbitan Al-Azhar Fresh Zone